MENGENAL JAID SAIDI: SENIMAN/PENYAIR BERTOPI ASAL PALEMBANG

1 Februari 2010 at 1:15 3 komentar


Fenomena yang muncul di tengah masyarakat dan menjadi semacam “wabah” di nusantara adalah hadirnya orang-orang yang memiliki obsesi menulis puisi, menerbitkan puisi, dan memanfaatkan puisi untuk berbagai jenis keperluan. Hal yang fenomenal adalah banyaknya penyair yang melahirkan sejumlah puisi di nusantara ini. Dalam konteks ini ada sinyalemen tentang terjadi inflasi penyair dan puisi di nusantara. Penyair dan puisi seperti jamur di musim hujan. Apakah yang melatari banyaknya penyair memproduksi puisi? Apakah ada relevansi antara bencana, musibah, penderitaan, dan berbagai tekanan kehidupan dengan kelahiran puisi dan penyair? Atau, apakah puisi yang digali dari rahim ibu pertiwi merupakan semacam pelarian aman untuk mendapatkan kenikmatan sesaat atau kebahagiaan sesat? Apakah buku kumpulan puisi menjadi tujuan, sarana, atau target bagi sejumlah penyair? Siapakah yang rela mendanai penerbitan buku puisi yang merupakan “proyek rugi” secara materiil selain seorang yang di luar batas kenormalan? Fenomena ini ada pada sosok Jaid Saidi.

Jaid Saidi lahir di Palembang 19 Desember 1959. Ia acap kali mengenakan topi dalam penampilannya. Pantas jika ia disebut Seniman/Budayawan/Penyair Bertopi. Lantaran banyak cabang seni yang ia geluti, pantaslah Bung Jaid ini disebut seniman dan budayawan. Seniman/budayawan/penyair bertopi ini bermukim di Palembang Sumatera Selatan. Perhatiannya terfokus pada dunia kebudayaan dan kesenian terutama teater dan puisi. Lantaran ia juga pendidik, kegiatan berkesenian didedikasikan juga untuk pendidikan seni. Sebagai penyair, Jaid Saidi terkesan konsisten dan produktif. Hal ini tampak pada titimangsa puisi yang diciptakannya merentang dari masa ke masa. Komitmennya di lapangan puisi ini ditandai oleh diterbitkannya buku kumpulan puisi pribadi yang dibidaninya sendiri, yaitu: “Sajak Mereka Yang Terluka”.

Bungsu dari tujuh bersaudara berteater sejak tahun 1980 di Teater Kembara Palembang. Tahun 1983 hingga 1988 bergabung dengan Bengkel Teater, pimpinan WS Rendra, Jakarta. Selain menjadi aktor, sering tampil membaca puisi, baik karya sendiri maupun karya penyair lain. Dalam kurun waktu 1981—1985, meraih 15 penghargaan sebagai juara pertama di berbagai lomba baca puisi.  Pada kurun waktu itu juga, menulis puisi yang beberapa di antaranya digunakan oleh Ian Antono dan Iwan Fals menjadi lagu. Sampai saat ini Jaid Saidi masih aktif sebagai penyair dan aktor pada teater. Kini, aktivitas Jaid Saidi menduduki sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Palembang (DKP) Periode 2005—2010, sekaligus komitmen dalam menulis puisi dan melatih teater di Palembang.

Sebagai seniman jalanan, ia pernah menjadi aktor terbaik dalam Festival Teater yang diselenggarakan oleh BKTSS. Tahun 1996, juga terlibat dalam pementasan Bengkel Teater Rendra dalam naskah “Panembahan Reso” di Istora Senayan, Jakarta. Berlakon sebagai Pangeran Bindi. Untuk dunia sinetron,  menjadi aktor dalam Bawang Emas dan Opera Odoi di TPI pada tahun 1992. Di stasiun televisi itu juga (TPI) menjadi penulis skenario sekaligus sutradara dalam beberapa tayangan “Dul Muluk Modern”, pada tahun 1991—1992.

Hal yang layak dicatat, bukanlah jumlah penyair atau kuantitas puisi yang dimuat dalam buku, melainkan bagaimana kisah di balik obsesinya seperti pengungkapkan pesan moral, yang selalu berkecamuk di dalam diri pengarang. Obsesi Jaid Saidi yaitu ingin menegakkan kebenaran dan keadilan, seperti dalam puisi “Kambing Hitamlah Kami”. Tema-tema sosial merupakan tema yang menonjol yang menjadi sentral pembicaraan dalam puisi karyanya.

Penyair merupakan orang tua bagi anak-anaknya. Sayang, banyak puisi yang menjadi yatim piatu lantaran orang tuanya tidak serius mengurus anak-anaknya. Puisi yang dilahirkan oleh penyair dan kadang terkesan kurang gizi dan menjadi tumpahan segala pemikiran serta perasaan. Lantaran penyair belum puas terhadap puisi-puisi yang dilahirkannya (sebab terdapat cacat pada puisi), ia terobsesi untuk terus berkarya melahirkan puisi yang lebih baik. Keinginan melahirkan puisi yang paling elok, paling manis, dan paling cantik mengganggu jiwa penyair bersangkutan. Setiap melahirkan puisi ada semacam perasaan puas dan sekaligus kecewa dan bahkan berbagai perasaan lainnya. Pelahiran puisi sering dihubungkan dengan perasaan “plong” seperti seorang ibu yang berhasil melahirkan bayinya secara normal. Para penyair pun tahu bahwa perasaan “plong” itu pun sesaat sifatnya, sebab ia terusik untuk melahirkan puisi baru.

Kumpulan puisi “Sajak Mereka yang Terluka” yang diterbitkan oleh Kelompok Penyair Palembang selain merupakan obsesi seorang Jaid Saidi tampaknya juga didedikasikan untuk keperluan studi puisi bagi berbagai kalangan. Dalam kerangka studi puisi pulalah tulisan ini diturunkan. Tulisan ini diturunkan tanpa berpretensi menilai penyair atau mengadili puisi sebagai hasil gubahan. Soal penilaian dan pengadilan terhadap puisi dan kiprah penyairnya memerlukan kesempatan serta ruang yang lapang*** (red)

Entry filed under: sastra. Tags: , , , , , , , , , .

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MENCARI INFORMASI DALAM KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN ARGUMENTASI Talking Stick

3 Komentar Add your own

  • 1. iin syah  |  11 Maret 2010 pukul 8:36

    Munculnya para penyair baru jelas merupakan perkembangan ke arah positif buat bangsa ini… why not? jikapun hanya karya prematur atau tidak cukup umur. Waktu akan mengasahnya jika ruang tak tertutup buat mereka berkembang.

    Balas
  • 2. soso  |  25 April 2010 pukul 21:43

    nggak ada basic pendidikan teater, bisa nggak pak. salam.

    Balas
  • 3. Drs.M.Ansyori,MSi  |  5 Oktober 2011 pukul 17:51

    buat saudara ku teruskan profesimu kamu punya potensi,terutama perlu bangunan yang utuh yaitu kompetensi kepribadian

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="https://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,456,161 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Twitter


%d blogger menyukai ini: