Batasan dan Rasional Anakon

22 Maret 2009 at 4:46 6 komentar


Berdasarkan kenyataan bahwa orang Indonesia umumnya dan para siswa khususnya tergolong dwibahasawan. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa kedua bagi sebagian besar rakyat Indonesia, padahal pengajaran bahasa Indonesia dimulai sejak taman kanak-kanak. Ini berarti pembinaan bahasa Indonesia sudah dimulai sejak dini. Namun demikian, masih banyak kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Persoalan kebahasaan yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah adanya pengaruh B1 (bahasa daerah atau bahasa ibu) terhadap B2 (bahasa Indonesia atau bahasa yang sedang dipelajari setelah B1). Pengaruh itu ada yang berkaitan dengan tata bunyi, bentuk kata, ada pula yang berhubungan dengan tata kalimat.

Bahasa pertama (B1) anak diperoleh secara alami dengan mendengar dan berinteraksi langsung dengan lingkungan anak belajar kebahasaan. Penguasaan B1 sama sekali tidak melibatkan guru bahasa dan orang lain yang dengan sengaja mengajarkan B1. Namun, berbeda halnya dengan belajar bahasa kedua (B2). Seorang anak akan mengalami hambatan dan tidak jarang anak akan gagal menguasai B2. Apalagi kalau B2 itu bahasa asing seperti bahasa Inggris.

Sehubungan dengan hal itu sebagian pakar bahasa mengatakan bahwa analisis kontrastif merupakan bagian pendekatan pembelajaran bahasa khususnya pemerolehan bahasa yang perlu dipahami.

1. Batasan Analisis Kontrastif (Anakon)

Analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa menggunakan metode perbandingan. Yang dimaksud metode perbandingan di sini adalah membandingkan unsur kebahasaan yang berbeda dan yang sama, namun tekanannya diarahkan pada unsur-unsur kebahasaan yang berbeda. Telah diketahui bahwa usaha membandingkan bahasa telah lama dilakukan oleh para ahli bahasa. Usaha membandingkan dua bahasa pada mulanya ditujukan untuk mencari persamaan antara kedua bahasa yang dibandingkan yang pada gilirannya untuk menentukan keserumpunan bahasa yang dibandingkan.

Analisis kontrastif (anakon) sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa mengasumsikan bahwa bahasa pertama (B1) mempengaruhi siswa ketika mempelajari B2). Menurut Pateda (1989:18) analisis kontrastif adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik membandingkan antara bahasa ibu (B1) dengan bahasa sasaran (B2) sehingga guru dapat meramalkan kesalahan siswa dan siswa dapat segera menguasai bahasa yang sedang dipelajari. Sejalan dengan itu, Tarigan (1990:59) mengatakan bahwa analisis kontrastif adalah kegiatan membandingkan struktur B1 dengan B2 serta langkah-langkah struktur B1 dengan B2, memprediksi kesulitan belajar, dan menyusun bahan pengajaran. Dengan demikian, kesulitan atau kesalahan belajar B2 tidak saja disebabkan adanya perbedaan antara B1 dengan B2, tetapi juga karena adanya kontak bahasa yang terjadi pada diri dwibahasawan.

Analisis kontrastif muncul karena adanya kenyataan yang dialami siswa ketika mempelajari B2. Anakon terbatas hanya menganalisis dua bahasa dengan jalan membandingkannya, yakni membandingkan B2 dengan B1 atau antara bahasa yang sedang dipelajari dengan bahas ibu. Hasilnya terutama perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan membantu guru bahasa Indonesia untuk meramalkan kesalahan yang kemungkinan dilakukan siswa dan sekaligus membantu siswa agar segera menguasai bahasa kedua (B2) yang sedang dipelajarinya.

Bertolak dari pemahaman itu dapat dikemukakan bahwa analisis kontrastif adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu (B1) dengan bahasa kedua (B2) atau bahasa yang sedang dipelajari sehingga guru dapat meramalkan kesalahan siswa dan siswa segera tahu kemudian menguasai bahasa yang bukan bahasa ibunya atau bahas yang sedang dipelajarinya.

2. Teori yang Mendasari Anakon

Dasar psikologis analisis kontrastif adalah teori transfer yang diuraikan dan diformulasikan di dalam suatu teori psikologi stimulus—responsi kaum behavioris (James:1982:20). Dengan kata lain belajar teori ilmu jiwa tingkah laku merupakan dasar analisis kontrastif.

Ada dua butir penting yang merupakan inti teori belajar ilmu jiwa tingkah laku, yaitu:

a. kebiasaan (habit);

b. kesalahan (error).

Apabila dikaitkan dengan pemerolehan bahasa maka kedua butir tadi akan berhubungan dengan:

a. kebiasaan berbahasa (language habit);

b. kesalahan berbahasa (language error).

Aliran psikologi behaviorisme menjelaskan pengertian tingkah laku aksi dan reaksi, atau stimulus menghasilkan responsi, stimulus yang berbeda menghasilkan responsi yang berbeda pula. Hubungan stimulus tertentu dengan responsi tertentu disebut kebiasaan atau habit. Hal inilah yang menjadi objek penelitian pakar psikologi seperti Watson dan Skinner. Yang menjadi masalah pokok adalah bagaimana terjadinya hubungan antara stimulus dan responsi (S-R). Menurut aliran psikologi behavior klasik, yang ditokohi oleh Watson, stimulus mendatangkan respon. Apabila stimulus terjadi secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap sehingga bersifat otomatis. Aliran psikologi behaviorisme modern dengan tokoh Skinner berpendapat bahwa kebiasaan dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan.

Kebiasaan mempunyai karakteristik utama. Pertama, kebiasaan itu dapat diamati atau observable, bila berupa benda dapat diraba, dan bila berupa kegiatan atau aktivitas dapat dilihat. Kedua, Kebiasaan itu bersifat mekanistis atau otomatis. Kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa disadari dan sukar dihilangkan terkecuali kalau lingkungan itu berubah. Perubahan itu mengarah kepada penghilangan stimulus yang membangkitkannya. Walaupun teori pembentukan kebiasaan itu bersifat umum, aplikasinya digunakan juga dalam pengajaran bahasa. Di dalam PB1, anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola kebiasaan bahasa ibunya. Hal yang sama terjadi pula dalam PB2. Melalui cara peniruan dan penguatan, para siswa mengidentifikasikan hubungan anatara stimulus dengan responsi yang merupakan kebiasaan dalam behasa kedua.

Menurut paham teori belajar psikologi behaviorisme yang mendominasi anakon, kesalahan berbahasa terjadi karena transfer negatif. Dengan istilah transfer negatif ini kita maksudkan penggunaan sistem B1 dalam ber-B2, sedangkan sistem itu berbeda dalam B2. Kesalahan secara terus-menerus merupakan ciri tidak terjadinya proses belajar. Kesalahan berbahasa perlu dihilangkan agar proses belajar berbahasa dapat berhasil secara maksimal. Kesalahan transfer negatif itu sendiri merupakan akibat penggunaan sistem yang berbeda yang terdapat pada B1 dan B2. Perbedaan sistem bahasa itu dapat diidentifikasi melalui B1 (bahasa ibu) dengan B2. Kesalahan berbahasa itu dapat dihilang-kan dengan cara menanamkan kebiasaan berbahasa melalui latihan, pengulangan, dan penguatan.

Analisis kontarstif berupa prosedur kerja yaitu aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan di anatara kedua bahasa. Perbedaan antara kedua bahasa yang dihasilkaan oleh analisis kontrastif dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan atau memprediksi kesulitan-kesulitan belajar berbahasa yang akan dihadapi para siswa di sekolah terutama saat belajar B2.

3. Penyebab Lahirnya Anakon

Beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai lahirnya anakon adalah:

a. majunya ilmu bahasa deskriptif-sinkronik dan majunya kajian-kajian kedwibahasaan;

b. majunya kajian-kajian dalam teori pemindahan bahasa (transfer of Learning).

Kemajuan dalam ilmu linguistik deskriptif-sinkronik ini ditandai dengan terbitnya buku Saund Patterns in Language (Sapir,1925). Dalam analisisnya Sapir menyatakan bahwa kebiasaan yang dikuasai seorang penutur asli bukanlah kebiasaan butir-butir yang lepas, tetapi kebiasaan dengan menggunakan sistem yang teratur. Ide sapir berkembang dengan cepat dan diakui oleh banyak ahli bahasa sebagai dasar perkembangngan linguistik struktur.

Fries, seorang ahli bahasa dan guru bahasa asing yang sangat berpengalaman, mencoba menerapkan ide Sapir untuk keperluan pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Dia memperhatikan kesalahan murid-muridnya baik dalam ucapan maupun dalam tulisan. Dari observasinya didapat kesan bahwa kelompok-kelompok tertentu mempunyai kecenderungan membuat kesalahan-kesalahan yang sama. Murid-muridnya yang berasal dari bahasa Spanyol tidak dapat mengucapkan dengan tepat kata-kata tertentu dengan bahasa Inggris. Contoh: speak diucapkan espik; study diucapkan estadi;school diucapkan eskul.

Para murid Fries yang berasal dari Filiphina juga mempunyai kesulitan, tetapi polanya tidak sama. Orang Filiphina cenderung mengucapkan kata-kata di atas dengan penambahan fonem [e] di antara konsonan pertama dan kedua . Contoh: speak diucapkan sepik; study diucapkan setadi; school diucapkan sekul

Fries kemudian menghubung-hubungkan penemuannya dalam kelas (pola-pola kesalahan yang dibuat oleh para muridnya). Selanjutnya, Fries mencetuskan suatu gagasan yang kemudian dikenal dengan nama analisis kontrastif (anakon). Gagasan ini pada mulanya (tahun 50-an) berkembang dengan pesat dan pada umumnya hanya bergerak pada aspek fonologi karena aspek yang lain (morfologi dan sintaksis) belum terlalu jelas arahnya.

Kajian tentang kedwibahasaan yang pada hakikatnya berkembang dengan pesat kerena pesatnya perkembangan ilmu bahasa deskriftif-sinkronik juga memberikan sumbangan terhadap perkembangan anakon. Kajian-kajian Winreich mencatat adanya interferensi pada tuturan seorang dwibahasawan. Yang dimaksudkan dengan interferensi di sini adalah adanya tuturan seseorang yang menyimpang dari B1 sebagai akibat dari perkenalannya dengan B2 atau sebaliknya yaitu penyimpangan B2 karena kuatnya pengaruh B1. Hal-hal itu sering disebut sebagai penganut analisis kontarstif haluan keras

Berbeda dengan beberapa pernyataan di atas bahwa penganut analisis kontrastif haluan lunak berpendapat bahwa bahasa ibu tidak selalu menghambat proses relajar bahasa oleh si terdidik. Hal yang sama dikemukakan oleh Lee (dalam Baradja, 1990:92) yang mengatakan bahwa interferensi B1 bukan satu-satunya penyebab kesalahan berbahasa si terdidik. Ada faktor lain yang turut menyebabkannya, misalnya tingkat penguasaan si terdidik, keberhasilan guru membimbing si terdidik, penjelasan guru yang membingungkan atau juga penjelasan yang keliru kepada si terdidik, dan faktor lingkungan si terdidik. Pengaruh lingkungan misalnya kelompok orang yang dapat menjadi panutan masyarakat, pengaruh media massa baik cetak maupun elektronik.

Faktor lain yang mendorong lahirnya gagasan anakon ialah pesatnya kemajuan teori pemindahan belajar (transfer of learning) pada saat-saat orang sedang mencari cara belajar bahasa yang efisien.

4. Rasional Anakon

Ada tiga sumber yang dapat digunakan sebagai penguat atau rasional anakon. Ketiga sumber itu adalah:

a. pengalaman praktis guru bahasa asing;

b. telaah mengenai kontak bahasa dalam situasi kedwibahasaan;

c. teori belajar.

Pertama, pengalaman guru bahasa asing. Setiap guru bahasa asing atau B2 yang sudah berpengalaman mengetahui secara pasti bahwa kesalahan yang cukup besar dan sering terjadi terdapat pada perulangan kembali pada tekanan B1 para siswa. Tekanan ini terutama pada pelafalan, susunan kata, susunan kalimat, dan sebagainya. Contoh: Orang India belajar bahasa Inggris dengan lafal bahasa India atau orang Jawa belajar bahasa Indonesia dengan lafal bahasa Jawa. Siswa Indonesia biasanya menyusun kalimat dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

“My name Marwan Sinaga.” seharusnya

“My name is Marwan Sinaga.”

Kedua, adalah telaah mengenai kontak bahasa di dalam kedwibahasaan. Kedwibahasaan mengenal atau mengetahui dua bahasa atau lebih merupakan tempat terjadinya kontak bahasa. Semakin besar kontak kedwibahasaan semakin besar pula kontak bahasa yang dilakukan. Kontak bahasa menimbulkan fenomena saling mempengaruhi. Tingkat pengaruh bahasa terletak pada bahasa mana yang telah dikuasai oleh pengguna dwibahasa itu sendiri. Bila B1 lebih dikuasai maka B2 sangat sulit dikuasai karena interferensi B1 sangat kuat serta sudah memfosilnya B1 pada diri pemakai bahasa itu. Interferensi merupakan sumber kesulitan dalam belajar bahasa dan juga sebagai penyebab kesalahan berbahasa.

Ketiga, teori belajar terutama teori transfer sebagai pendukung hipotesis anakon. Hal ini akan dikaji secara khusus pada pembehasan hipotesis anakon. Sebagai gambaran bahwa teori transfer adalah suatu proses yang melukiskan penggunaan tingkah laku yang telah dipelajari secara otomatis, spontan dalam usaha memberikan responsi baru. Transfer dapat bersifat negatif dan dapat pula bersifat positif (Dulay,1982:101). Lebih lanjut Dulay menyatakan bahwa transfer negatif terjadi apabila tingkah laku yang telah dipelajari berbeda dengan tingkah laku yang sedang atau akan dipelajari, sebaliknya transfer positif terjadi apabila pengalaman masa lalu sesuai dengan tuntutan tugas baru.

Sumber Bacaan

Baraja, MF.1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP Malang.

Dulay, Heidi. et all.1982. Language Two. Oxford: Oxford University Press.

James, W. Tollefson dan James T. Fira. 1982. Fosisilization in Second Language Acquisition an Inter-Model View. RELC Journal. Vol. 4. No. 2 (19-34)

Pateda, Mansur.1989. Analisis Kesalahan. Ende: Nusa Indah

Tarigan, H.G., dan Djago Tarigan. 1990. Pengajaran Analisis Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Entry filed under: Bahasa Indonesia. Tags: , , , , , , , , , , .

Contreng, Centang, Conteng Laporan Manajerial Kepemimpinan Kepala Sekolah: Penerapan Fungsi-Fungsi Manajemen

6 Komentar Add your own

  • 1. yantysa  |  22 Maret 2009 pukul 12:34

    wah bagus ya kak blognya kak….. jangan lupa mampir keblog saya ya kak

    yantysa.wordpress.com

    _____________
    @yantysa. Kakak udah mampir ke blog kamu, bagus dan cantik sekali pernak-perniknya. Tapi sayang, komen kakak dihapus… eh…eh…eh

    Balas
  • 2. siti aishah  |  1 April 2009 pukul 15:03

    baik membantu saye dlm pencarian ilmu pengajaran b2 dan b3

    Balas
  • 3. mila  |  13 Juni 2009 pukul 11:25

    makasih banyak atas informasinya……………………………. semoga ilmunya selau bermanfaat

    Balas
  • 4. M.sanwan saimima  |  17 Juli 2009 pukul 21:42

    Trims atas penjelasannya. Dgn sumbangan pemikiran tentang penggunaan bahasa dan pengaruhnya dlm dunia pendidikan akan memberikan manfaat bagi siswa utk mengenali jati dirinya terhadap perkembangan dunia informasi. Smg blog kanda menjadi referensi bagi calon guru yg berprofesional.

    Balas
  • 5. rido  |  5 Juli 2010 pukul 10:47

    trims..

    Balas
  • 6. ziea....  |  30 November 2010 pukul 19:27

    tengkyu very much ,,,,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="https://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,456,161 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter


%d blogger menyukai ini: