Persaingan PTN dan PTS

6 Februari 2009 at 3:11 Tinggalkan komentar


Setiap berakhirnya tahun pelajaran adalah peluang bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk merekrut calon mahasiswa. Di kalangan calon mahasiswa PTN masih merupakan primadona. Hal ini terlihat banyaknya para lulusan SMA/SMK yang berlomba-lomba mendaftarkan diri. Sedangkan PTS yang jumlahnya menjamur masih menunggu hasil akhir penyaringan PTN yang disaring melalui SPMB (dulu: UMPTN).

Kalau diperhatikan, sejumlah PTS yang ada belum mampu berbuat banyak untuk bersaing dengan PTN dalam merekrut calon mahasiswa. Sebagian besar PTS hanya mampu menangguk sisa-sisa  calon mahasiswa yang tidak lulus SPMB. Walaupun sudah banyak cara yang telah dilakukan oleh beberapa PTS mulai dari promosi di koran, televisi, radio, brosur, bahkan spanduk yang membentang di sudut-sudut kota, namun jarang terjadi para lulusan SMA/SMK yang menyerbu PTS  itu  sebelum pelaksanaan SPMB. Hanya PTS tertentu saja yang mungkin dipavoritkan telah menerima calon mahasiswa sebelum SPMB. Hal ini menggambarkan bahwa betapa sulitnya bagi PTS untuk merekrut calon mahasiswa hingga keberadaan PTS masih dinomorduakan. Ini merupakan tantangan bagi sebagian besar pengelola PTS. Padahal, secara finansial kuliah di PTN sekarang ini jauh lebih besar daripada PTS.

Ada beberapa alasan mengapa para lulusan SMA/SMK mati-matian mengikuti SPMB, antara lain: 1) diterimanya di PTN merupakan rasa kebanggaan tersendiri karena mereka merasa mampu mengalahkan para kompetitornya; 2) calon mahasiswa masih mempercayai bahwa PTN lebih baik daripada PTS dengan asumsi kuliah di PTN lebih berkualitas; 3) masyarakat beranggapan bahwa manajemen di PTN lebih unggul dibandingkan PTS; 4) mereka lebih nyaman kuliah di PTN karena semua fasilitas ada di sana; dan masih banyak alasan lain yang lebih mendasar yang dapat ditinjau dari berbagai lini.

Terlepas dari beberapa alasan di atas, yang jelas eksistensi PTN dan PTS bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Baik PTN maupun PTS harus bermitra dan bekerja sama dalam mencerdaskan anak bangsa. Menurut laporan majalah Asiaweek mutu perguruan tinggi kita masih menempati posisi ranking terendah bahkan tidak mempunyai ranking. Menghadapi kenyataan ini, semua pihak telah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sudah waktunya, bagi PTN yang ada di Indonesia untuk melakukan pembinaan terhadap PTS. Walaupun wadah pembinaan bagi PTS adalah tanggung jawab Kopertis. Akan tetapi, pola-pola yang diterapkannya belum dapat menyentuh keberhasilan perguruan tinggi. Karena itu, PTN tidak dapat berbuat sendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam hal ini PTN tidak dapat menyalahkan PTS. Kehadiran PTS jangan dijadikan tandingan dan ancaman bagi PTN. Akan tetapi, dijadikan mitra sejajar yang saling menguntungkan sehingga dapat bekerja sama dalam memacu mutu pendidikan. Harus diakui pula bahwa presensi PTS lebih besar sumbangsihnya dalam membangun bangsa ini.

Kita bersyukur bahwa sistem pendidikan yang semula sentralistik, kini beralih ke desentralistik. Dulu, kita diperkenalkan dengan pola tunggal dalam pengelolaan perguruan tinggi sehingga sistem ini dirasakan mengekang inovasi baik PTN maupun PTS. Sekarang baik PTN maupun PTS dapat berimprovisasi dalam pengembangan kehidupannya. Tanggung jawab pemerintah pusat terhadap PTN – dalam hal subsidi dana – benar-benar lepas setelah diberlakukan PP No. 61 Tahun 1999 tentang otonomi pendidikan tinggi. Pengelolaan perguruan tinggi termasuk dalam hal biaya-biaya operasioanl dibebankan penuh terhadap perguruan tinggi. Akibatnya, sebagian besar PTN yang dulunya “manja” kini harus bekerja keras mencari dana sendiri. Bagi PTS kenyataan ini tidak mengganggu, memang dari dahulu pembiayaan operasional sudah dikelola dengan sendiri. Dengan berlakunya PP No. 61 Tahun 1999 tersebut telah menghilangkan kecemburuan bagi PTS terhadap PTN. Sudah tentu dalam mencari dana ini, manajer-manajer pendidikan di PTN harus banyak belajar dari PTS yang lebih profesional.

Di tengah-tengah kompetisi perguruan tinggi, kini waktunya bagi PTN dan PTS untuk dapat menarik hati bagi para lulusan SMA/SMK. Program-program yang ditawarkan bukan hanya janji tapi bukti. Lewat karya nyata harus mampu melakukan terobosan-terobosan baru sehingga keberadaannya tidak makin terpuruk. Perguruan tinggi tidak hanya dapat merekrut calon mahasiswa, tetapi harus dapat memikirkan bagaimana cara menyiapkan calon sarjana baru dengan lapangan kerja yang ada. Jangan sampai perguruan tinggi hanya dapat mencetak sarjana baru, tetapi mereka tidak dapat disalurkan. Tenaga mereka tidak dapat dibutuhkan di masyarakat karena terlampau banyak keluaran sarjana baru yang tidak dapat dimanfaatkan. Secara meluas hal ini akan berdampak terhadap masalah sosial. Kenyataan ini sama halnya membodohi masyarakat dan akan menambah jumlah barisan penganggur intelek.

Peran Serta Perguruan Tinggi

Kehadiran perguruan tinggi diketahui sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pusat penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat. Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, harus dilakukan penelitian (Research) dan pengembangan (Development) atau sering dikenal dengan singkatan R & D. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, perguruan tinggi dituntut agar selalu dijadikan sebagai pusat pengkajian perkembangan sumber ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, perguruan tinggi tidak hanya dijadikan sebagai penggagas ilmu pengetahuan, tetapi harus dijadikan knowledge museum yang dapat dijadikan sebagai acuan referensi penelitian.

Hasil-hasil riset yang telah dilakukan di lembaga perguruan tinggi di-follow up sehingga dapat memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan. Problematika yang berkembang, betapa banyak riset yang dilakukan belum membawa dampak yang signifikan bagi perubahan pendidikan. Research yang dilakukan tidak diikuti oleh development yang akan dibutuhkan (needed) oleh masyarakat. Apa yang dilakukan hanya sebatas substansi, belum memberikan jalan keluar bagi dunia pendidikan sehingga masih ditemukan para sarjana yang tidak mampu berbuat dalam menempatkan ilmunya di masyarakat, padahal sesungguhnya peran serta perguruan tinggi harus melahirkan para sarjana yang dapat berguna di masyarakat dan siap menjadi pekerja dalam meningkatkan ilmu pengetahuan (knowledge workers).

Secara moralitas perguruan tinggi bertanggung jawab di dalam membuka dan menciptakan lapangan kerja dan membuka lapangan kerja baru. Perguruan tinggi tidak dapat melempar tanggung jawabnya begitu saja dan mengambinghitamkan para sarjana yang nota bene diklaim tidak mampu sehingga tidak mau tahu terhadap lapangan pekerjaan. Perguruan tinggi yang semacam itu hanya mementingkan bisnis lupa akan fungsinya sebagai bentuk dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Baik PTN dan PTS harus dapat memikirkan kegunaan dari calon sarjana baru di tengah-tengah persaingan bebas pada abad ke-21. Perguruan tinggi harus mampu menangkap peluang dan memanfaatkan potensi para calon sarjana baru. Perguruan tinggi tidak semata-mata mementingkan bisnis dan mengeruk keuntungan yang melimpah ruah. Jangan lupa, adanya lembaga perguruan tinggi merupakan mitra pemerintah dalam mencetak generasi penerus bangsa yang dapat dimanfaatkan dalam mengisi pembangunan. Kita masih ingat dulu betapa banyak bangsa asing yang mau belajar ke Indonesia. Sekarang jadi berbalik, kita yang justru pergi ke luar negeri belajar dengan mereka.

Di tengah pesatnya persaingan antara PTN dengan PTS atau persaingan sesama PTS membuat para lulusan SMA/SMK harus selektif untuk memasuki dan memilih jurusan di perguruan tinggi. Kehati-hatian dalam memilih jurusan di perguruan tinggi sangat diperlukan agar kita tidak terjebak dan terperangkap oleh sebuah promosi yang menakjubkan. Akan tetapi, akan sulit bagi kita untuk mengubahnya apabila ada sebagian orang beranggapan kuliah di perguruan tinggi yang termahal sekalipun untuk sekadar mencari prestise dan popularitas karena yang bersangkutan hanya ingin menyandang predikat mahasiswa di kampus yang elite, sedangkan di kampus yang cukup sederhana masih lebih baik pengelolaannya. Untuk apa harus membuang-buang uang yang banyak demi sebuah prestise dan popularitas jika di kampus tersebut tidak dapat menghantarkan alumninya ke masa depan yang lebih baik. Atau, orang yang kuliah di perguruan tinggi itu sekadar mencari gelar bukan untuk mempertajam ilmu pengetahuannya.

Entry filed under: Pendidikan. Tags: , , , , , , , , , , .

Dampak Bahasa Ibu (B1) dalam Pemerolehan Bahasa Pengaruh Intensitas Persaingan terhadap Orientasi Pasar dan Strategi Pelayanan Jasa serta Dampaknya terhadap Kinerja Perusahaan (Survei terhadap Manajer Umum pada Hotel Berbintang di Propinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="https://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,456,161 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Twitter


%d blogger menyukai ini: