Pembentukan Sikap Sosial Anak

2 Desember 2008 at 22:57 3 komentar


Pembentukan sikap sosial anak dapat terjadi melalui: (1) pengalaman yang berulang-ulang atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam (pengalaman traumatik); melalui imitasi (peniruan yang terjadi tanpa disengaja atau sengaja); (2) sugesti, yaitu seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya; (3) identifikasi, yaitu seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi/badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya; (4) meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai, yang sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan pimpinan, peserta didik dengan guru, antara anggota suatu kelompok dengan anggota lainnya dalam kelompok tersebut yang dianggap paling mewakili kelompok yang bersangkutan.

Pembentukan sikap sosial anak mengandung tiga komponen, yaitu: kognitif (konseptual), afektif (emosional), konatif (perilaku atau action component). Komponen kognitif yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap. Komponen afektif yaitu yang berhubungan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Komponen konatif yaitu komponen yang berkaitan dengan kecenderungan untuk berperilaku terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.

Sarwono (2000:95) mengemukakan bahwa pembentukan sikap sosial anak dapat melalui empat macam cara:

  • Adopsi: Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lam kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap. Misalnya, sseorang yang sejak lahir sampai ia dewasa tinggal di lingkungan yang fanatik Islam, ia akan mempunyai sikap negatif terhadap daging babi.
  • Diferensiasi: Dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersediri lepas dari jenisnya. Terhadap obyek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula. Misalnya, seorang anak kecil mula-mula takut kepada tiap orang dewasa yang bukan ibunya, tetapi lama-kelamaan ia dapat membeda-bedakan antara ayah, paman, bibi, kakak, yang disukainay dengan orang asing yang tidak disukainya.
  • Integrasi: Pembentukan sikap ini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tersebut. Misalnya, seorang dari desa sering memdengar tentang kehidupan kota, ia pun sering membaca surat kabar yang diterbitkan di kota kawan-kawan yang datang dari kota membawa barang-barang yang bagus dan bercerita tentang keindahan kota. Setelah beberapa waktu, maka dalam diri orang dewasa tersebut timbul sikap positif terhadap kota dan hal-hal yang berhubungan dengan kota, sehingga pada akhirnya ia terdorong untuk pergi ke kota.
  • Trauma: Adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap. Misalnya, orang yang sekali pernah jatuh dari sepeda motor, selamanya tidak suka lagi naik sepeda motor.

Sikap selain dapat terbentuk oleh pengalaman-pengalaman yang objektif atau oleh sugesti-sugesti, juga dapat terbentuk karena prasangka. Prasangka adalah penilaian terhadap sesuatu hal berdasarkan fakta dan informasi yang tidak lengkap. Jadi, sebelum orang tahu benar mengenai sesuatu hal, ia sudah menetapkan pendapatnya mengenai hal tersebut dan atas dasar itulah ia akan membentuk sikap.

Tulisan ini bersambung pada INTERAKSI DAN KOMUNIKASI DALAM KELUARGA

Entry filed under: psikologi. Tags: , , , , , , , , .

Penyebab Siswa Kurang Lancar Membaca Pembelajaran Kooperatif “Make A Match”

3 Komentar Add your own

  • 1. wahid  |  30 Desember 2008 pukul 23:27

    blog bapak isinya sangat bagus, tp loadingnya berat untuk dibka

    Terima kasih infonya….saya juga tdk tahu knapa loadingnya jd berat, padahal theme yang digunakan tdk banyak variasinya….

    Balas
  • 2. Abangjo  |  21 April 2010 pukul 10:38

    thank sob,,oya tukar link ya….

    Balas
  • 3. Dwi vivin Fitrotus (@dwivivin_fs)  |  18 Oktober 2012 pukul 10:10

    mksh nge pak…pak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="https://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,456,161 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Twitter


%d blogger menyukai ini: