Suara Guru
“Kegagalan yang memalukan pada sistem pendidikan kita adalah kegagalan untuk mengenal, menghargai, dan mengembangkan bakat sejumlah besar murid berbakat”
Memilki pengetahuan berarti memiliki kekuatan. Berbagilah sedikit pengetahuan dan pengalaman Anda dalam SUARA GURU. Berikanlah saran, usul, pemikiran, tanggapan atau apa saja tentang pendidikan. Boleh juga meletakkan link tulisan di sini. Bagi yang bukan guru jangan khawatir, kamu boleh ikutan ….
Komentar: no spam
27 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Usep Supriatna | 30 Desember 2008 at 22:14
Hakekat seorang Guru adalah kemampuan untuk mempertajam penglihatan mata lahir dan mata batinnya terhadap potensi yang dimiliki peserta didik serta terampil untuk membangkitkan potensinya tersebut.
(salam kenal Bang !)
2.
Abuthoriq | 31 Desember 2008 at 12:26
Thoyibin, guru memang harus punya kepribadian. Harus berkarakter. Salam dari kami. Ok. Saling link
3.
sawali tuhusetya | 31 Desember 2008 at 17:47
Konon ada yang bilang, guru itu ada dua macam, yakni guru kurikulum dan guru inspiratif. keduanya sama2 dibutuhkan dalam upaya membangkitkan dan mengembangkan kompetensi siswa didik. yang masih langka di negeri ini, konon juga, adalah guru inspiratif. kalau guru kurikulum semata-mata hanya ingin mengejar target kurikulum, sedangkan guru inspiratif berupaya untuk melakukan inivasi dan terobosan baru agar suasana kelas tercipta atmosfer pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. guru bukan satu2nya sbg sumber belajar, melainkan tak lebih sebagai fasilitator dan mediator semata. siswa bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang perlu diperlakukan sesuai dengan tipe dan gaya belajarnya. *duh kok saya jadi cerewet begini*
ok, selamat berjuang, mas tarmizi. mari kita cerdaskan anak2 negeri ini agar kelak mereka tidak menjadi generasi robot yang miskin kreativitas.
===============
Tarmizi Ramadhan menjawab:
4.
jurnalis | 1 Januari 2009 at 21:42
Terus inovatif dan berusaha mencari hal baru, metode baru sekalipun gagal
itulah guru inspiratif – apalagi yang mengaku sudah menerima Tunjangan profesional (lulus sertifikasi) harus lebih inspiratif lagi
serta meningkatkan semangat gemilang untuk terus melihat kemenangan pendidikan nasional, yakni generasi Indonesia yang cerdas, berakhlak mulia, dan berwibawa
5.
Zulmasri | 1 Januari 2009 at 23:47
pertama salam balik pak. trims atas kunjungan ke blog saya.
kedua, tentang suara guru. aha, agaknya tepat sekali pak. saya setuju. suara pak tarmìzi lewat tulisan blog ini juga mewakili suara saya.
maju terus pak….
6.
chowie lhandoer | 6 Januari 2009 at 21:37
Maaf pak, lulus sertifikasi ternyata belum menjamin bahwa guru tersebut sudah layak mendapat sebutan guru profesional, toh lulusnya juga melalui Diklat Massal, ? Boleh setuju dengan komentar saya ini, boleh juga tidak. kan saya hanya bisa komentar. Sorry yah ?
7.
ONNY RUDIANTN | 8 Januari 2009 at 9:27
Gara-gara sertifikasi, sekarang ini banyak guru yg kehilangan jati diri, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kedisiplinan, motto digugu lan ditiru hilang, dll. demi selembar sertifikat untuk memburu sertifikasi, sunggu ironi. wahai guru bangsa…sadarlah, kembalilah kejalan yg benar ingat semua akan dipertanggung jawabkan. Jadilah guru bersertifikasi bukan bersertifikat
8.
iwanmalik | 9 Januari 2009 at 11:17
Guru harus bisa memberikan inspirasi, motivasi untuk kreasi yang inovatif dari pembelajaran yang diberikan, sehingga menciptakan karya atau penemuan baru yang lebih berguna.
http://iwanmalik.wordpress.com
Info Pendidikan, Wirausaha & Kimia terapan
9.
pakarfisika | 11 Januari 2009 at 11:48
Bila Guru memiliki Jaringan yang solid,
Bila Guru mampu berkarya ketimbang bicara,
Bila Guru menjadi Sangat Berjasa dan bukan Tanpa ‘tanda’ Jasa,
Bila saya menemukan Guru seperti yang saya baca tulisannya di Suara Guru ini,
Karena manusia terlahir sebagai ‘Guru’…
salam ta’aruf Pak Tarmidzi…
10.
budisan68 | 12 Januari 2009 at 23:53
di dunia hanya ada dua profesi yaitu guru dan bukan guru. selamat atas sertifikat guru profesional yang telah Anda raih. salam kenal dari kalimantan tengah
11.
khairilusman | 28 Januari 2009 at 13:30
slam kenal buat bapak….
“Pahlawan Tanpa tanda Jasa” kata2 itu yg dianggap penyejuk bagi guru padahal Guru adalah Tiang Negara Tanpa Guru APA JADINYA NEGARA….
selamat bejuang…salam dari sel-sel_parepare
12.
YAREDI GEA | 3 Februari 2009 at 21:20
SEKIAN LAMA MENJADI GURU
KEHIDUPAN BEGITU-BEGITU SAJA TAK ADA PERKEMBANGAN DAN TAK ADA KEMUNDURAN
BARU SEKARANG BISA BERNAFAS SETELAH BANYAK KEPUTUSAN PENTING YANG TELAH SAYA AMBIL SENDIRI
UNTUK MEMBEBASKAN HIDUP DARI PENDERITAAN
13.
NORBERT | 3 Februari 2009 at 21:25
SEKIAN LAMA MENJADI GURU
KEHIDUPAN BEGITU-BEGITU SAJA TAK ADA PERKEMBANGAN DAN TAK ADA KEMUNDURAN
BARU SEKARANG BISA BERNAFAS SETELAH BANYAK KEPUTUSAN PENTING YANG TELAH SAYA AMBIL SENDIRI
UNTUK MEMBEBASKAN HIDUP DARI PENDERITAAN
14.
NORBERT | 3 Februari 2009 at 21:27
SEKIAN LAMA MENJADI GURU
KEHIDUPAN BEGITU-BEGITU SAJA TAK ADA PERKEMBANGAN DAN TAK ADA KEMUNDURAN
BARU SEKARANG BISA BERNAFAS SETELAH BANYAK KEPUTUSAN PENTING YANG TELAH SAYA AMBIL SENDIRI
UNTUK MEMBEBASKAN HIDUP DARI PENDERITAAN
15.
Mahmduin | 13 Februari 2009 at 14:47
guru hakekatnya adalah sosok yang menjadi sentral figur, terlepas dari berbagai karakter yang dia miliki. apapun yang ia lakukan akan menjadi model anak didik dalam kehidupan selanjutnya. untuk itu poses uswatun hasanah menjadi sebuah kemutlakan yang harus dilakukan oleh seorang guru
16. Kiat-kiat UN « Setanhutan’s Blog | 2 Maret 2009 at 11:07
[...] Suara Guru [...]
17.
Heni mardaleni | 4 Maret 2009 at 15:33
Sertifikasi seperti buah simalakama, disatu sisi guru menginginkan adanya peningkatan kesejahteraan dalam hidupnya, disisi lain guru dituntut menjadiguru yang profesional. Untuk menjadi guru yang bersertifikasi diperlukan segala daya dan upaya termasuk mengesampingkan kejujuran, yang tidak dapat dideteksi oleh sistem yang ada. Mudah-mudahan saya tidak termasuk guru yang seperti itu, amin.
18.
imam munadjad | 20 Maret 2009 at 20:23
Bung Tar, tak sedikit guru hakekatnya cuman ” tukang ngajar” . Susah menjadi guru yg sejati di tengah kepungan rezim materi
19.
titiksetyowati | 29 Maret 2009 at 5:34
profesi guru itu menyenangkan…ada suatu kepuasan batin, saat saya harus memberikan ilmu ke anak dan rekan guru, meski diluar jam mengajar, meski pula tanpa imbalan alias insentif sepeserpun…bagaimana rekan guru yang sudah sertifikasi??siapkah anda mengajar hingga diluar jam kerja tanpa insentif, karena sudah diganti tunjangan sertifikasi????
20.
bunda Muharrik | 30 Maret 2009 at 9:01
Bagi saya, mengajar itu seperti bermain teater (meski hanya sekali saya bermain drama, itupun waktu ujian apresiasi drama dulu di kampus), karena saya harus pandai mengolah suara, mimik, ekspresi, intonasi, dan menyelami jiwa anak (sedikit gaul) walau sering dibilang jayuz oleh anak didik. Ketika mengajar saya bisa melupakan sedikit beban rumah tangga yang berat (hehehe). Profesi guru yang paling membosankan adalah ketika harus dituntut oleh sekolah untuk menyelesaikan satpel dan RPP selama satutahun di awal ajaran baru, padahal mengajar itu sendiri menyenangkan bagi saya. Padahal menulis RPP sebagai skenario “drama” harus dipikir matang-matang agar siswa memahami pelajaran
21.
emditadasmi | 16 April 2009 at 10:00
Assamualaikum , Pak Tar?
Saya suka dengan profesi saya sebagai guru, apalagi saya guru kelas satu SD, yang banyak suka dan dukanya. Saat mendapatkan tantangan untuk mengajak anak belajar membaca awal,, belum sikap manjanya lagi, terasa keunikan kita sebagai guru di sana. sebagai ibu guru di sekolah, kita harus pandai membujuk mereka untuk mau bicara, untuk mau bekerja, untuk mau mendengarkan kita bicara. Saya mengajar di kelas 1 dan 2 sd ini sudah 22 tahun (kontinue), memang 15 tahun pertama mengabdi mulai ada titik kejenuhannya. Setelah pergantian tahun ajaran, saya lihat pimpinan nampaknya masih tetap meletakkan jabatan saya sebagai guru kelas 1 atau 2 lagi.Apa yang terpikirkan oleh saya, kalau begitu saya masukkan saja jiwa saya ini ke dalam dunia anak kelas 1 tersebut agar kita lebih terasa menyenangkan. Kita berbuat yang terbaik untuk mereka, untuk menyenangkan mereka. Kita akan merasa tambah sayang sama mereka. tapi… yang rumit ada Pak..
yaitu tentang adminstrasinya. Tapi …. gimana ya…? Kalau kita ingin mengajar secara profesional tentu perencanaan pembelajaran harus matang kan… ? Nah, kalau begitu tentu kita rancang RPP yang menyenangkan bukan ????
Nach, rancangannya siapa yang buat ? tentu gurunya masing-masing. Iya, nggak Pak? Ada saran nggak Pak buat saya ? agar saya bisa lebih enjoy menghadapi kenyataan ini.
22.
samsul | 30 April 2009 at 9:30
Salam buat pak Tarmizi. Pak saya ingin mengajak guru untuk mencari alternatif pengganti UN yang harus mengejar angka-angka target kelulusan yang memang dibuat atas kebijakan menteri pendidikan yang mantan menteri ekonomi itu, padahal pendidikan tidak sama dengan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat kita patok usekia persen untuk dicapai, tapi angka kelulusan hanya sekolah dan daerah yang tau. Mari urun pikiran untuk menyelesaikan masalah ini. Salam takzim. (Samsul Azwar, S.Pd) SMPN 1 Muara Bungo. Jambi
23.
M Mursyid PW | 9 Mei 2009 at 18:08
Bergantung pada pendidikanlah nasib dan masa depan bangsa ini. Semoga kita para guru yang suka bicara di dunia maya ini melalui blog tetap konsisten pada tugas mulia masing-masing.
Salam kenal Pak Tarmizi.
24.
joe | 26 Mei 2009 at 13:04
Alhamdulillah…
saya sangat bersyukur bisa menemukan blog ini…
kepada rekan2 guru…yu kita tingkatkan profesionalitas kita sebagi guru…….
jangan jadi guru yg seperti di sinetron2
banyak sekali pelecehan buat guru..mis.
ada guru yg ke bencong2an
ada guru yg bloon
dll.
25.
Selayang Pandang | 30 Mei 2009 at 21:10
Assalamu’alaikum
Salam kenal… Jangan lupa berkunjung juga kesini Ada Nasehat nasehat buat Guru..!
wassalam
26.
TABURONI | 23 September 2009 at 13:11
Jika anda sudah mendapat tunjangan sertifikasi jadilah guru yang dapat disejajarkan dengan profesi yang lain dengan tingkah laku layak diteladani oleh seluruh komponen bangsa.
27.
muhammad rifai | 9 Oktober 2009 at 21:36
profesi guru adalah profesi yang mulia, sehingga seyogyanya dilaksanakan atas dasar ketulusan dan keiklasan, bukan hanya mengejar materi (gaji), tetapi tetap mengharapkan balasan di akhirat kelak.
Salah satu amalan yang tetap diterima balasannya di akhir kelak, adalah ilmu yang diberikan kepada sesama atas dasar ketulusan dan keihlasan