Contreng, Centang, Conteng

20 Maret 2009 at 9:30 25 komentar


Pada suatu ketika saya ditanya oleh siswa mengenai istilah conteng, centang, contreng. Yang mana istilah yang benar conteng, centang, atau contreng? Agar tidak terjadi kesalahtafsiran, saya menjelaskan ketiga istilah itu kepada siswa menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD).

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan  kata contreng. Kata ini populer ketika suatu lembaga (KPU)  dan Parpol mensosialisasikan cara pemilihan dengan contreng. Agar tidak terjadi kesalahtafsiran, istilah contreng tergolong kata yang tidak baku. Bagi kalangan tertentu (partai politik) kata contreng mungkin tidak banyak dipersoalkan, tetapi bagi kalangan pengguna Bahasa Indonesia yang baik dan benar kata contreng belum dibenarkan. “Ada yang berpendapat bahwa yang penting rakyat mengerti. Jadi, penggunaan kata atau istilah apa pun boleh-boleh saja.”  Menurut hemat penulis penggunaan contreng termasuk arbiter (semena-mena atau sesukanya) dan hanya berlaku untuk kalangan terbatas (meskipun kata itu belum dibakukan dalam Bahasa Indonesia).

Centang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), centang memiliki makna sebagai berikut:

  • cen·tang /céntang/ (nomina), yang berarti ‘tanda koreksi, bentuknya seperti huruf V atau tanda cawang.’ Jika diberi awalan /me-/ menjadi men·cen·tang (verba) yang berarti  ‘membubuhi coretan tanda koreksi (V);
  • Jika cen·tang /céntang/ dijadikan bentuk perulangan, menjadi  cen·tang-pe·re·nang (ajektiva), yang berarti ‘tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb.); porak-parik; berantakan.’ Contoh: Segalanya centang-perenang di ruangan itu .
  • ke·cen·tang-pe·re·nang·an (nomina), yang berarti ‘keadaan yang centang-perentang.’ Contoh: Kecentang-perenangan dalam mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru .

Kata  ‘centang ’ dipakai di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2), 3), dan 4) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 yang isinya, yaitu:

tata cara pemberian suara pada surat suara, ditentukan:

  1. menggunakan alat yang telah disediakan;
  2. dalam bentuk tanda V (centang ) atau sebutan lainnya ;
  3. pemberian tanda V (centang ) atau sebutan lain , dilakukan satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon anggota DPR/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota;
  4. pemberian tanda V (centang) atau sebutan lain dilakukan satu kali pada foto salah satu calon anggota DPD;

Conteng

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), conteng memiliki makna sebagai berikut:

  • con·teng /conténg/ (nomina), yang berarti coret (palit) dengan jelaga, arang, dsb.; coreng;
  • ber·con·teng-con·teng (verba), yang berarti ‘ada conteng-contengnya; bercoreng-coreng (dengan arang, jelaga, dsb.).’ Contoh: Mukanya berconteng-conteng; Papan tulis itu berconteng-conteng dengan kapur.
  • men·con·teng (verba), yang berarti ‘mencoreng dengan arang (tinta, cat, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng alisnya dengan arang; Menconteng arang di muka. (peribahasa), yang artinya ‘memberi malu.’
  • men·con·teng-con·teng (verba), artinya ‘mencoreng-coreng (memalit-malit, mencoret-coret) dengan arang (tinta, kapur, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng-conteng dinding rumah kami .
  • men·con·teng·kan (verba), artinya ‘mencorengkan; memalitkan.’  Contoh: Ibarat mencontengkan arang di dahi sendiri (Peribahasa).
  • ter·con·teng (verba), memliki dua arti: 1. ‘sudah diconteng(kan); 2. kena noda (aib, malu). Contoh: Terconteng arang di muka. (Peribahasa), yang artinya ‘mendapat malu.’

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa “contreng termasuk istilah belum baku. Menurut hemat penulis kata  “contreng ini baru muncul pada saat seseorang memberikan sosialisasi menjelang Pemilu 2009. Hal ini terjadi karena di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2) dan 3) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 memungkinkan seseorang menggunakan sebutan lainnya . Oleh karena itu, muncullah istilah contreng. Oleh sebagian orang, hal itu turut dibenarkan dan turut pula disosialisasikan kepada masyarakat, padahal dalam Bahasa Indonesia maknanya belum ditemukan. (Red: tantangan bagi Penyusun Kamus Bahasa Indonesia).

Kata “centang merupakan istilah yang baku. Tandacentang berarti pula memberikan tanda check atau tanda koreksi (V). Jika di dalam pemilihan umum nanti yang dimaksdukan memberi tanda check atau tanda koreksi (V) pada nomor atau angka seorang calon maka  pemakaian kata “centang lebih tepat digunakan.

Kata “conteng memang tergolong kata baku, namun kata “conteng kurang tepat jika dipakai dalam konteks Pemilihan Umum 2009, sebab akan banyak bentuk coretan yang dilakukan masyarakat. Secara etimologi ‘conteng’ berarti coret. Yang dimaksud dengan coret dapat berarti memberi tanda check (V), silang (X), = (sama dengan), atau coreng dengan tinta, arang, atau apa saja.

About these ads

Entry filed under: Bahasa Indonesia. Tags: , , , , , , , .

70% Siswa Keliru Menuliskan Huruf Kapital dalam Karangan Batasan dan Rasional Anakon

25 Komentar Add your own

  • 1. Riri Oktarini  |  21 Maret 2009 pukul 0:54

    Tapi, mas, masyarakat sudah terlanjur mengenal kata ‘contreng’…. berarti parpol dan caleg perlu banyak belajar lg menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika contreng tidak tahu artinya ‘apa?’ buat apa disosialisasikan.

    Balas
  • 2. Chuson Meidina  |  21 Maret 2009 pukul 9:59

    Masyakrat Kalimantan tidak kenal istilah “contreng”…….

    Balas
  • 3. Rang Aceh  |  21 Maret 2009 pukul 12:50

    INFORMATIF SEKALI. SALAM ….

    Balas
  • 4. cryta  |  21 Maret 2009 pukul 16:51

    istilahnya macem2 ya, kalo ada orang yg gak tahu…. ya harus pake peraga kali… ada lagi bahasa jawa.. di cutat.. he he, salam

    ____________
    @cryta, betul sekali. Sulitnya sekarang ini untuk menyatukan pendapat… salam….

    Balas
  • 5. masedlolur  |  22 Maret 2009 pukul 10:14

    yang salah bukan daripada “contreng”
    tetapi daripada keengganan melihat KUBI,
    maka “mereka” perlu dianjurken atau diingatken

    salam daripada saya

    ____________
    @masedlolur, salam kembali Mas. Lama tdk berkunjung, sibuk, ya…?

    Balas
  • 6. pctija  |  22 Maret 2009 pukul 12:27

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.,

    Memang sangat memperihatinkan, semua kata yang terucap oleh para petinggi dianggap sah dan baku, padahal itu sama saja merusak nilai-nilai bahasa dan sastra indonesia itu sendiri…

    Ya…semoga para petinggi tersebut diberikan petunjuk….

    kepada para ahli bahasa diharapkan tindakan nyatanya agar masyarakat tidak dibodohi oleh kata-kata…

    Blog saudara sngat menarik, dan penuh dengan nilai-nilai pembelajaran yang dapat menambah wawasan….

    terus berkarya…

    salam

    TIM PCTIJA, Bumi Parahiyangan Indonesia…

    ______________
    @pctija, PR buat ahli bahasa Indonesia …..

    Balas
  • 7. BAE  |  23 Maret 2009 pukul 6:09

    Salah kaprah ya :-) ?

    _____________
    @BAE. Yups….

    Balas
  • 8. farcha  |  23 Maret 2009 pukul 10:05

    wah..berarti bahasa indonesia sedang dalam masalah nih… nyatanya masyarakat sendiri tidak bisa menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. namun menggunakan bahasa indonesia yang gaul.

    _____________

    @farcha, memang sangat disayangkan seandainya kita masih menggunakan bahasa gaul dalam situasi resmi (nasional).

    Balas
  • 9. safril  |  23 Maret 2009 pukul 21:19

    Contreng merupakan salah satu istilah pengganti kata “centang”. Istilah ini biasa disosialisasikan di masyarakat dengan adat Sunda. Apalagi ditambah dengan “mempublikasikan” kata itu via televisi membuat istilah ini semakin dikenal oleh masyarakat luas namun juga semakin menambah kebingungan masyarakat pada makna kata itu sendiri.

    NB: Biasa lah.. Namanya juga iklan TV.. Bangga-banggain kota jakarta kek, jawa barat kek, orang sunda kek, betawi kek, dll.. Istilah dari bahasa lain udah gak dianggep kalee..

    ______________
    @safril, terima kasih atas kunjungannya, salam hangat selalu…

    Balas
  • 10. parlin  |  30 Maret 2009 pukul 18:14

    sangat disayangkan memang yah, kata conteng atau contreng dipakai dalam pemilu.

    seharusnya memakai centang saja,, lebih umum dan menurutku lebih formal..

    thanks pak.. infonya

    Balas
    • 11. Tarmizi Ramadhan  |  31 Maret 2009 pukul 5:53

      Penggunaan kata “contreng” akan meracuni para siswa kita. Para siswa beranggapan kata inilah yang benar dan tepat, padahal kata “contreng” merupakan bahasa lisan dari Jawa yang belum dibakukan ke dalam Bahasa Indonesia. Untuk para guru Bahasa Indonesia, jangan pernah memberikan contoh penggunaan bahasa yang tidak baku kepada siswa dalam situasi resmi. Jelaskanlah kepada para siswa mengenai arti atau makna kata itu secara bijaksana. Berilah penjelasan kepada para siswa bahwa kata “contreng” itu belum baku, meskipun para petinggi kita dengan gencar telah mensosialisasikan kata itu.

      Balas
      • 12. itox  |  1 April 2009 pukul 9:35

        saya orang Jawa asli, tinggal di Jawa sejak lahir gak tau istilah contreng itu lho.

  • 13. Tarmizi Ramadhan  |  1 April 2009 pukul 11:24

    @Itox, terima kasih atas infonya. Setelah ditelusuri ada satu situs yang menyatakan bahwa “contreng” berasal dari kata Sunda, yang berarti membubuhkan tanda centang (seperti huruf V dengan ekor yang agak panjang) pada permukaan. (sumbernya klik di sini
    Untuk mengecek kebenarannya, perlu dikaji kembali,

    Balas
  • [...] saya tanya saja sama Kang Google. Apa jawabannya ? Silahkan dibaca tulisan Tarmizi Ramadhan dalam http://tarmizi.wordpress.com/2009/03/20/contreng-centang-conteng/ berikut ini, walupun untuk alasan mengapa, saya belum puas [...]

    Balas
  • 15. castrajayecwara  |  4 April 2009 pukul 16:32

    Istilah “contreng” juga baru saya kenal akhir-akhir ini. Istilah tersebut mungkin sebelumnya dipakai oleh kalangan terbatas. Saya menyayangkan mengapa dalam sosialisasi tentang cara memilih, menggunakan istilah ersebut?Mengapa tidak menggunakan kata “centang” saja,yang jelas meupakan kata baku alam Bahasa Indonesia.

    Balas
  • 16. lixz  |  4 April 2009 pukul 20:02

    wow, penjelasan luar biasa. saya kutip satu paragraf anda di http://www.ficforlife.com, tentu saja dengan credit buat anda :D

    Terima kasih infonya juragan

    Balas
    • 17. Tarmizi Ramadhan  |  4 April 2009 pukul 21:23

      Dengan senang hati jika Anda mau menyebarluaskan postingan ini. Tulisan ini sekadar informasi bagi para pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat luas bahwa kata “contreng” yang selalu didengung-dengungkan oleh para calon petinggi negara itu, ternyata belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Ironisnya, baik media cetak maupun media elektronik seakan-akan turut pula mensosialisasikan kata itu.

      Balas
  • 18. lixz  |  4 April 2009 pukul 20:03

    btw, salam kenal :)

    Balas
  • 19. Contreng, apaan tuh..?  |  4 April 2009 pukul 21:30

    Sungguh dilematis bahasa Indonesia kita. Menurut saya, contreng itu bahasa gaul.

    Balas
  • 20. maniEz  |  7 April 2009 pukul 13:49

    nga masalah yg pnting…………….
    jgn golput aja…………………
    OtrE3……………

    Balas
  • 21. Lana  |  8 April 2009 pukul 16:11

    Terima kasih untuk penjelasannya.

    Selain ini, kata ‘semena-mena’, bukankah artinya ‘sebaik-baiknya’? Kata ‘sewenang-wenang’ yang berarti ‘sesukanya’.

    Salam.

    Balas
  • 22. Lana  |  8 April 2009 pukul 16:25

    Maaf, jadi bingung sekarang setelah membaca artikel di bawah ini:

    “Kamus dicinta waswas tiba”

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1993/10/30/KL/mbm.19931030.KL2325.id.html

    Balas
  • 23. Sawali Tuhusetya  |  19 April 2009 pukul 23:12

    hehehe … ada banyak teman yang menanyakan juga penggunaan istilah contreng. ternyata belum sempat menulis. mohon izin, mas tarmizi untuk meng-kopi, ya? tentu saja dengan mencantumkan almat blog Mas Tarmizi. Matur nuwun. salam kreatif!

    ______________
    @Sawali Tuhusetya. Apa kabar, Pak, senioritas saya? Blog dan situsnya makin bertambah, tentu repot sekali mengasuhnya. Sukses buat Anda.

    Balas
  • 24. wakhinuddin  |  23 April 2009 pukul 16:22

    Centang, biasanya dipakai. Bukan contreng. Salah KPU….!!!

    Balas
  • 25. rido  |  5 Juli 2010 pukul 10:45

    coblos…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="http://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,090,430 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: