Penerapan Teknik Cerita Berantai untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa
8 Maret 2009
Kurikulum nasional untuk mata ajar Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hakikat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Hakikat belajar sastra adalah memahami manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia ialah peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan dan tulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada para siswa meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di antara keempat aspek tersebut dalam makalah ini, penulis hanya memfokuskan pada aspek berbicara. Aspek berbicara ini dipilih karena sangat mendukung terjadinya proses berkomunikasi secara lisan. Dengan belajar berbicara siswa belajar berkomunikasi.
Menurut Nuraeni (2002), “Kemampuan berbicara tidak dinyatakan secara eksplisit dalam kurikulum sekolah menengah pertama, tetapi dinyatakan secara implisit pada tema.” Akibatnya kalau guru kurang benar-benar memberikan perhatian terhadap keterampilan berbicara itu, mungkin akan terabaikan pengajarannya. Kemungkinan guru akan lebih menekankan keterampilan berbahasa tertulis dan mengabaikan keterampilan berbahasa lisan.
Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Si pembicara berdudukan sebagai komunikator sedangkan pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.
Agar pembicaraan itu mencapai tujuan, pembicara harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Hal ini bermakna bahwa pembicara harus memahami betul bagaimana cara berbicara yang efektif sehingga orang lain (pendengar) dapat menangkap informasi yang disampaikan pembicara secara efektif pula.
Untuk dapat menjadi seorang pembicara efektif, tentu dituntut kemampuan menangkap informasi secara kritis dan efektif. Karena dengan memiliki keterampilan menangkap informasi secara efektif dan kritis, pembicara akan memiliki rasa tenggang rasa kepada lawan berbicara (pendengar), sehingga pendengar dapat pula menangkap informasi yang disampaikan pembicara secara efektif.
Berbicara mengenai kemampuan menangkap informasi berarti kita berbicara pula mengenai aktivitas menyimak. Tentu hal tersebut berkenaan dengan kegiatan menyimak tepat guna dan menyimak efektif. Oleh karena itu, para siswa perlu dilatih sejak dini mengenai upaya menyimak tepat guna dan efektif agar kemampuan berbicaranya menjadi efektif pula.
Menurut Nuraeni (2002), “Banyak orang beranggapan berbicara adalah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak perlu dipelajari.” Untuk situasi yang tidak resmi barangkali anggapan ini ada benarnya, namun pada situasi resmi pernyataan tersebut tidak berlaku. Kenyataannya tidak semua siswa yang berani dan mau berbicara di depan kelas, sebab mereka umumnya kurang terampil sebagai akibat dari kurangnya latihan berbicara. Untuk itu, guru bahasa Indonesia merasa perlu melatih siswa untuk berbicara. Latihan pertama kali yang perlu dilakukan guru ialah menumbuhkan keberanian siswa untuk berbicara.
Berdasarkan pengalaman empris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal ini diketahui pada saat siswa menyampaikan pesan/informasi yang bersumber dari media dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut kurang jelas. Siswa berbicara tersendat-sendat sehingga isi pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas. Selain itu, pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru. Beberapa orang siswa ada yang tidak mau menjawab pertanyaan guru karena takut jawabannya itu salah. Apalagi untuk berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian.
Dari latar belakang di atas perlu dicari alternatif lain sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hal ini mengingat pentingnya pengajaran berbicara sebagai salah satu usaha meningkatkan kemampuan berbahasa lisan di tingkat sekolah menengah pertama, penulis menggunakan teknik pengajaran berbicara yaitu teknik cerita berantai. Dipilihnya teknik cerita berantai ini karena mampu mengajak siswa untuk berbicara. Dengan teknik ini, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas. Siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping itu, diharapkan pula agar siswa mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.
Menurut Tarigan (1990), “Penerapan teknik cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya menjadi meningkat.”
Teknik cerita berantai bisa dimulai dari seorang siswa yang menerima informasi dari guru, kemudian siswa tadi membisikkan informasi itu kepada teman lain, dan teman yang telah menerima bisikan meneruskannya kepada teman yang lain lagi. Begitulah seterusnya. Pada akhir kegiatan akan dievaluasi, yaitu: siswa yang mana yang menerima informasi yang benar atau salah. Siswa yang salah menerima informasi tentu akan salah pula menyampaikan informasi kepada orang lain. Sebaliknya, bisa saja terjadi informasi yang diterima oleh siswa itu benar tetapi mereka keliru menyampaikannya kepada teman yang lain. Untuk itu, diperlukan pertimbangan yang cukup bijak dari guru untuk menilai keberhasilan teknik cerita berantai ini.
Menurut Nuraeni (2002), “Berbicara adalah proses penyampaian informasi dari pembicara kepada pendengar dengan tujuan terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pendengar sebagai akibat dari informasi yang diterimanya.”
Tarigan (1990) berpendapat bahwa teknik cerita berantai adalah salah satu teknik dalam pengajaran berbicara yang menceritakan suatu cerita kepada siswa pertama, kemudian siswa pertama menceritakan kepada siswa kedua, dan seterusnya kemudian cerita tersebut diceritakan kembali lagi kepada siswa yang pertama.
Menurut Tarigan (1990), cerita berantai dapat diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
- Guru menyusun suatu cerita yang dituliskan dalam sehelai kertas.
- Cerita itu kemudian dibaca dan dihapalkan oleh siswa.
- Siswa pertama menceritakan cerita tersebut, tanpa melihat teks, kepada siswa kedua.
- Siswa kedua menceritakan cerita itu kepada siswa ketiga.
- Siswa ketiga menceritakan kembali cerita itu kepada siswa pertama.
- Sewaktu siswa ketiga bercerita suaranya direkam.
- Guru menuliskan isi rekaman siswa ketiga di papan tulis.
- Hasil rekaman diperbandingkan dengan teks asli cerita.
Untuk menerapkan teknik cerita berantai diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
- Guru menyiapkan sehelai kertas yang bertuliskan pesan (kurang lebih satu atau tiga kalimat) yang akan disampaikan kepada siswa.
- Pesan yang hendak disampaikan guru menyangkut kejadian-kejadian yang cukup menarik dan berarti bagi siswa. Misalnya: cara meningkatkan hasil belajar, penerapan disiplin diri, atau motivasi belajar.
- Siswa yang duduk di depan menerima pesan dari guru dan meneruskannya kepada siswa yang duduk di sebelahnya. Kegiatan ini dilakukan siswa di depan kelas sambil berdiri.
- Siswa yang telah menerima pesan meneruskannya kembali kepada siswa lain. Kegiatan ini dilakukan sampai pada tiga orang siswa saja. Kemudian siswa ketiga menceritakan isi cerita kepada siswa pertama.
- Guru dan siswa membandingkan isi cerita siswa pertama dengan ketiga.
Pembahasan Hasil
Penggunaan teknik cerita berantai ternyata memberikan beberapa manfaat dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa, antara lain:
- Pembelajaran berlangsung lebih efektif.
- Keaktifan siswa lebih meningkat.
- Terjadi interaksi yang positif antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
- Proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan lebih menarik.
Di samping manfaat di atas, penerapan teknik cerita berantai menurut hasil temuan di lapangan memiliki beberapa kendala dan hambatan, seperti:
- Waktu yang tersedia masih kurang mencukupi.
- Memerlukan kecermatan dalam memberikan penilaian.
- Kalimat yang panjang lebih dari tiga kalimat masih sulit untuk disimak.
Pembentukan kelompok dalam menerapkan teknik cerita berantai dapat membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk berbicara dan sekaligus menyimak bahan pembicaraan. Pada waktu siswa menyimak pesan, tampak siswa saling mengingatkan dengan sesama anggota kelompok. Ini dilakukan agar siswa tidak keliru menyampaikan isi bahan simakan. Fenomena ini membuat siswa harus dapat menyimak dengan teliti, sebab siswa takut sekali akan membuat kesalahan dalam menyampaikan isi bahan simakan pada saat ia disuruh untuk berbicara.
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian, minat, dan motivasi siswa sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan ketelitian siswa pada waktu akan menyampaikan isi bahan simakan di depan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Nuraeni, Euis dan Agus Supriatna. 2002. Penataran Tertulis Tipe A untuk Guru-Guru SLTP Jurusan Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
Tarigan, Djago dan H.G. Tarigan. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Entry Filed under: PTK. Tag: Artikel, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Indonesia, Belajar, hasil belajar, keterampilan berbahasa, Keterampilan Berbicara, metode pembelajaran, model pembelajaran, opini, Pembelajaran, Pembelajaran Aktif, Pendidikan, Pendidikan Indonesia, Penelitian, Penelitian Tindakan Kelas, PTK, Teknik Pembelajaran.
16 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed







1.
Treante | 11 Maret 2009 at 22:05
coba banyak guru yang baca ini ya…
2.
Xh20ray still Balckout | 12 Maret 2009 at 6:26
waduh… ruwet… tapi memang harus begitu caranya. namun agaknya metode ini kurang begitu disukai siswa. biasanya banyak siswa yang merasa ogah-ogahan melakukan atau mengikut sertakan dirinya dalam aktifitas ini. sebab, jika ini dilakukan, maka sang siswa tersebut bisa dicap sebagai siswa yang cari muka. coba aja deh… dijamin, akan ada yang namanya tingkatan. maksudku : tingkatan cari muka sama tingkatan cari ilmu serta tingkatan minder.
3.
asriyana dewi | 13 Maret 2009 at 9:30
saya rasa bisa diterapkan jadi melatih kemampuan siswa menyimak
dan berbicara sesuai dengan cerita yang ada
4.
Ria | 14 Maret 2009 at 12:09
postingan bagus, dan dapat memberikan masukan bagi guru bahasa Indonesia. sukses selalu…. salam kenal
5.
yoseph | 31 Maret 2009 at 14:51
terima kasih pak……semoga informasi ini dapat berguna bagi orank banyak…….
6.
Zuyana | 8 Mei 2009 at 10:31
Bravo!!!! Bon continuation…….
7.
Sriayu | 12 Juni 2009 at 15:36
Salam kenal Pak.
Sepertinya teknik ini bisa jg untuk bahasa Inggris. Ntar d coba Pak.
Jika anda ad wkt luang…Please visit me and leave comment..
I’ll wait for it…
8.
arief masud | 3 Juli 2009 at 7:06
Semoga Allah membalas yang lebih baik dan lebih banyak kepada Anda krn tlh menyebarkan ilmu yg bermanfaat, amiiiin.
arief.mw.
9.
aevian yullyana | 20 Juli 2009 at 13:33
apa ada buku lain selain Tarigan yang membahas tentang cerita berantai? terima kasih….
lam kenal
10.
Pejuang | 9 Agustus 2009 at 10:35
Di sekolah ku, setiap siswa diharuskan mempresentasikan setiap tugas di depan siswa lainnya. Kegiatan ini bertujuan agar siswa dapat berbicara di depan umum, kegiatan rutin ini telah berhasil dan terlihat manfaatnya pada setiap siswa.
Berdasarkan penelitianku setiap siswa di sekolah dalam kemampuan berbicara sudah baik. Hanya saja faktor ketidakberanian mereka saja yang menghalangi.
Kadang aq melihat siswa malu berbicara di depan umum karena malu terlihat wajahnya menghitam (bagi yang berkulit gelap) dan memerah bahkan sampai panas (bagi yang berkulit cerah). Apakah ini merupakan faktor biologis setiap siswa?? Cobalah perhatikan warna kulit teman kalian saat berbicara didepan umum!!
> maaf kurang mampu dalam menulis <
11.
Gania MachiX | 26 Oktober 2009 at 12:07
ada tehnik lain lagi nggak?? soalnya saya nggak yakin siswa akan suka dengan metode ini,,lok ada referensi lain tolong kirim yaa…………..thankz
12.
Nur Arief | 5 November 2009 at 2:07
Thank you for your write
13.
www.nur_arif@yahoo.co.id | 5 November 2009 at 2:13
Thank U for your writing
14.
VEMBE | 9 November 2009 at 4:58
saya sudah mencoba teknik ini dengan 1 kalimat pendek yang mempunyai rima sama pada beberapa kata di dalamnya.Hasilnya siswa antusias dan mau mengikuti pelajaran dengan gembira.Meskipun mereka tidak benar dalam mengucapkan kalimatnya, metode ini cocok digunakan untuk siswa kelas 2 SD,sebagai pengantar pelajaran. Saya masukkan pada kegiatan awal mereka suka dan termotivasi.Melihat hasil demikian alangkah menyenangkan hati!
15.
Áðý $ápòétrà | 11 November 2009 at 4:22
Any question to you Apa bedanya informasi berantai dgn cerita berantai pleese help me
16.
Áðý $ápòétrà | 11 November 2009 at 4:23