SMP Terbuka tidak Efektif
8 Februari 2009
BERDASARKAN hasil pantauan Kelompok Masyarakat Pemerhati Pendidikan Sumatera Selatan (KMP2S), dari sekian banyak jumlah SMP Terbuka disinyalir sekitar 40% saja pelaksanaannya memenuhi target sesuai dengan juklaknya.
Kalau demikian, pihak Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sumatera Selatan sebagai penanggungjawab pelaksanaan SMP Terbuka perlu melakukan peninjauan ulang. Keberadaan SMPT sekarang perlu ditertibkan dengan alasan telah terjadi ketidakefektifan pelaksanaan SMPT dengan indikator jumlah peserta didik terus merosot, TKB (Tempat Kegiatan Belajar) tidak berfungsi sehingga banyak guru pamong dan guru bina yang tidak tahu akan tugasnya. Juga sebagian besar pihak sekolah dengan kebijakan sendiri menggabungkan peserta didiknya belajar seperti biasa ke SMP Reguler. Hal ini tentu menyalahi aturan main.
Menurut hasil investigasi tim KMP2S, penyebab kemerosotan jumlah siswa tersebut antara lain kurangnya manajemen pihak sekolah yang memanage SMP Terbuka, motivasi dari pihak orang tua maupun siswa sendiri, dan lingkungan di tempat siswa berada kurang berdaya dukung. Tampaknya, pihak Diknas Pendidikan Nasional, baik di pusat maupun daerah jarang mengevaluasi hal ini.
Sebagai insan pendidikan, kita sangat prihatin atas gejala-gejala di atas. Karena kehadiran SMP Terbuka sebagai upaya pemerintah mengentaskan wajib belajar 9 tahun. SMPT diharapkan mampu menampung dan melayani anak usia 13-15 tahun yang telah tamat SD dan MI, tetapi tidak berkesempatan mengikuti pendidikan melalui SMP Reguler karena beberapa alasan, misalnya karena faktor geografis, sosial ekonomi, budaya maupun waktu.
Penyelenggaraan SMP mempunyai karakteristik yang berbeda dengan SMP Reguler, terutama dalam sistem belajarnya. Para siswa belajar melalui modul di TKB yang dibimbing oleh seorang guru pamong. Dalam waktu seminggu sekali siswa SMPT bertatap muka dengan Guru Bina untuk memecahkan kesulitan materi pelajaran.
KMP2S mengharapkan kepada penanggung jawab pendidikan, baik di daerah maupun di pusat untuk segera melakukan pengecekan ke lapangan. Dicari solusi penyebab ketidakefektifan SMP Terbuka. Lebih baik jumlahnya sedikit tapi efektif dibandingkan banyak, tapi hasilnya tidak karuan.
Tarmizi Ramadhan
Ketua Kelompok Masyarakat Pemerhati Pendidikan Sumatera Selatan
Entry Filed under: Pendidikan. Tag: Artikel, Belajar, berita, opini, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Indonesia.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed







1.
ichsan ntt | 6 Maret 2009 at 15:38
mo ambil ne makasi pak
2.
M. Diah | 2 Mei 2009 at 10:03
benar sekali pak, sepertinya tidak efektif kalau masalah ini dibiarkan saja. Dulu saya adalah siswa SMPT di Sumatera Selatan. seorang siswa angkata pertama sejak presiden Soeharto mencanangkan SMP Terbuka. Alhamdullillah saya bisa selesai juga walaupun belajarnya kurang efektif.
untuk itu mari kita menghibau segenap masyarakat akan peduli pendidikan di indonesia khususnya.
Saya sangat setuju sekali kalau SMP Terbuka digalakkan khususnya anggota masyarakat yang kurang mampu.
Wassalam.