Strategi Pemasaran Partai Politik dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden

6 Februari 2009 at 19:41 5 komentar


1. Pendahuluan

Sebentar lagi rakyat Indonesia akan melaksanakan Pemilu yaitu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres dan Pilwapres). Sudah barang tentu masing-masing parpol (partai politik) yang menjagokan pemimpin untuk memperebutkan kursi presiden akan mengadu strategi, yang dikemas dalam strategi pemasaran.

Pemilihan Presiden atau Wakil Presiden barangkali akan menjadi peristiwa sejarah yang kedua dalam sistem tata negara selama Indonesia merdeka, sebab pemilihan dilakukan secara langsung oleh rakyat, tidak seperti pemilihan umum tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan oleh MPR.

Marketing is Everything” kata Warren J. Keegen dalam bukunya Global Marketing Management. Pamasaran adalah proses mengkonsentrasikan berbagai sumber daya dan sasaran dari sebuah organisasi pada kesempatan dan kebutuhan lingkungan. Pemasaran adalah kumpulan konsep, sarana teori, kebiasaan dan prosedur serta pengalaman.

Philip Kotler dan Gary Armstrong adalam bukunya Priciples of Marketing menulis bahwa “pemasaran itu berada disekeliling kita semua, dan kita harus tahu sesuatu tentang itu. Pemasaran itu tidak hanya relevan bagi perusahaan-perusahaan manufacturing, grosir dan pengecer, tetapi juga semua individu dan organisasi. Tak seorang politisi yang akan mampu mengumpulkan suara yang diperlukan tanpa mengembangkan dan melaksanakan rencana-rencana pemasaran.” (Kotler & Armstrong, 1996).

Philip kotler dalama bukunya Marketing Management menyatakan bahwa “orang-orang pemasaran melakukan pemasaran dari 10 jenis wujud yang berbeda: barang, jasa pengalaman, peristiwa, orang tempat kepemilikan organisasi, informasi dan gagasan.” (Kotler, 2003).

Pakar pemasaran ini mendefinisikan Manajemen Pemasaran sebagai “suatu proses perencanaan dan pelaksanaan pemeikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.”

Selanjutnya kata “strategi” berasal dari bahasa Yunani strategia. Akar kata “stratos” artinya militer, sedangkan”ag” artinya memimpin. Strategi militer difahami sebagai suatu tindakan dan pengamatan untuk mengetahui kekuatan dan posisi musuh, memahami bagaimana situasi medan perang, kekuatan dan kelemahan sumber daya sendiri, serta tindakan apa yang perlu dilakukan sekiranya terjadi perubahan.

Adapun pengertian strategi secara umum dapat dirumuskan sebagai suatu rencana yang fundamental untuk mencapai tujuan organisasi. Kotler menyatakan bahwa strategi adalah suatu rencana permainan untuk mencapainya. Guru besar Northwestern University ini menyatakan bahwa “setiap bisnis harus merancang strategi untuk mencapai tujuannya, yang terdiri dari strategi pemasaran dan strategi teknologi serta strategi penetapan sumber yang cocok “ (Kotler, 2003).

Perlu dibedakan pengertian strategi dan taktik. Strategi adalah penetapan arah keseluruhan dari organisasi, sedangkan taktik merupakan implementasi dari strategi yang menekankan pada bagian-bagian tertentu dalam kegiatan organisai.

Orang-orang partai selalu menggunakan kalimat: “strategi harus tetap, taktik bisa berubah seribu kali sehari”. Sebagaimana seringnya dinyatakan oleh mereka bahwa kata-kata di dalam berpolitik banyak kemungkinan atau kata-kata yang sering dilontarkan “berpolitik itu adalah seni berkompromi”.

Penyusunan strategi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi saat ini dan dimensi masa mendatang. Dimensi saat ini menyangkut hubungan yang berlangsung sekarang antara organisasi dan lingkungannya. Dimensi masa mendatang, meliputi hubungan yang diperkirakan akan dihadapi oleh organisasi dan bagaimana membuat program yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Rencana pelaksanaan menyediakan sarana untuk samapai ke tujuan sesuai dengan jalan yang telah dipilih.

Di dalam lingkungan yang kompetitif, titik awal adalah mengenali posisi kompetitif, menetapkan tujuan-tujuan organisasi, kemudian merumuskan strategi-strategi yang diperlukan untuk mencapai posisi baru. Dalam kompetitif menjadi dasar pemilihan strategi-strategi pemasaran kompetitif. Pada dasarnya faktor utama yang terlibat dalam menilai posisi kompetitif adalah semua yang berdampak terhadap kenerja pasar, seperti pangsa dan citra organisasi.

Strategi pemasaran adalah sebagai alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut. Strategi pemasaran merupakan bagian integral dari strategi bisnis yang memberikan arah pada semua fungsi manajemen suatu organiassi (Tjiptono, 1997).

Dalam kaitannya dengan “medan pertempuran” maka sangat relevan kalau Capres atau Cawapres sekarang dalam masa menjelang pemilu ini seharusnya mulai mempersiapkan strategi pemasaran untuk mencapai tujuannya, yakni untuk mendapatkan suatu kemenangan.

2. Pembahasan

Dalam kajian teori maka partai politik adalah organisasi yang menghasilkan “Jasa Nir Laba”. Produk adalah “jasa”, yang menurut David Kurtz dan Kenneth Clow dalam bukunya Servis Marketing, dapat berupa “the technical outcome” dan “the functional outcome”. The technical outcome menjawab pertanyaan “jasa apa” dan the functional outcome ”bagaimana jasa dilaksanakan”.

Jasa apa yang akan diberikan Capres dan Cawapres? Bagaimana partai politik melaksanakannya? Di mana perjuangan yang akan dilakukan Capres dan Cawapres untuk menggaet hati rakyat?

Konponen kedua dari bauran pemasaran adalah harga. Karena jasa tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun, maka harga menjadi sangat penting bagi konsumen, yakni “apa yang dapat diharapkan”. Rakyat akan menilai Capres dan Cawapres yang hanya pandai mengobral janji. Bagi Capres dan Cawapres yang tidak bisa mewujudkan janji-janjinya, yang tidak bisa mewujudkan harapan rakyat, akan “dihargai murah” oleh rakyat. Di dalam jasa, “harga murah” identik dengan kualitas rendah.

Masalahnya apakah partai politik besar di Indonesia itu menjadi besar, karena kualitasnya sehingga mendapat dukungan rakyat dalam Pilpres dan Pilwapres mendatang?

Distribusi di dalam jasa adalah kemampuan mengakses produk jasa sampai ke konsumen. Karena Capres dan Cawapres memerlukan dukungan massa, maka diperlukan sosialisasi sampai ke daerah-daerah. Kegiatan ini merupakan kegiatan bauran pemasaran partai politik.

Citra adalah bauran pemasaran keempat dari jasa. Ini adalah elemen yang sangat penting agar produk jasa “dibeli” oleh konsumen. Strategi membangun citra inilah yang lebih dominan dilakukan oleh Capres dan Cawapres di Indonesia untuk menggaet pemilih-pemilihnya daripada beradu menyajikan program, visi, dan misinya untuk membangun negara Republik Indonesia.

Bauran pemasaran terakhir adalah promosi. Pada masa kampanye nanti, merupakan promosi yang akan dilakukan para capres dan cawapres partai-partai politik peserta pemilu.

Berdasarkan definisi Manajemen Pemasaran sebagaimana yang dikutip pakar pemasaran, Philip Kotler, di dalam pemasaran harus ada “pertukaran”. Artinya pertukaran akan terjadi apabila ada pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Menurut Kotler dan Armstrong, pertukaran adalah tindakan untuk memperoleh suatu objek yang diinginkan dari seseorang (sesuatu pihak) dengan menawarkan sesuatu sebagai gantinya.

Partai politik melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan dengan memberi janji-janji dan mengharapkan agar rakyat “membeli” janji-janjinya itu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Ketika janji-janji itu tidak dilaksanakan oleh seorang Capres dan Cawapres terpilih rakyat tidak mempunyai kemampuan untuk menagih janji bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk mengganti Capres dan Cawapres lain, karena sesungguhnya mereka ternyata bukan Capres dan Cawapres hasil pilihan rakyat, tetapi adalah sebagai wakil-wakil partai. Sangat ironis bila kita mempunyai Presdien dan Wakil Presiden tidak mempunyai daya apa-apa untuk mengatasi sekelumit permasalahan bangsa dan negara ini. Lebih memalukan dan memilukan lagi, ternyata Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih yang berfungsi sebagai lembaga eksekutif hanya berbuat untuk partainya saja dan tidak mampu berbuat banyak untuk mengatasi persoalan bangsa ini.

Kondisi ini bisa terjadi karena tidak ada “kontrak politik” antara pemilih dengan Capres dan Cawapres. Pemilih menyerahkan “kuitansi kosong”, sementara itu Capres dan Cawapres terpilih akan mengisi kuitansi itu dengan sesuka hatinya tanpa diketahui dan tanpa dipertanggungjawabkan kepada pemilihnya.

Partai politik merasa tidak mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab kepada siapa pun. Politisi beranggapan bahwa kekuasaan sebagai tujuan akhir. Kekuasaan dipakai sebagi sarana untuk mendapatkan uang. Selain itu, eksistensi partai politik dirasakan rakyat hanya ada ketika menjelang pemilu. Kantor-kantor partai kelihatan sibuk hanya menjelang Pemilu. Selain itu, berlalu seperti sediakala, dan rakyat mengurus dirinya sendiri lagi, teriakan rakyat hanya bergema di luar gedung-gedung perwakilannya.

Bagaimana strategi pemasaran Capres dan Cawapres Indonesia dalam Pemilu 2009 nanti? Sebenarnya pertanyaannya lebih tepat dirumuskan dengan kalimat: adakah strategi pemasaran partai-partai politik di Indonesia dalam Pilpres dan Pilwapres mendatang?

Di dalam banyak buku-buku literatur Manajemen Pemasaran disebutkan bahwa dalam jasa pelanggan berinteraksi dengan pemberi jasa yang kualitas jasanya kurang pasti dan lebih bervariabel. Hasil jasa tidak saja dipengaruhi oleh pemberi jasa, tetapi juga oleh keseluruhan proses produksi. Jadi pemasaran jasa memerlukan lebih dari sekadar “bauran pemasaran” tradisional. Pemasaran jasa memerlukan strategi pemasaran yang disebut sebagai pemasaran internal dan pemasaran interaksi.

Dengan menggunakan “bahasa partai”, maka yang dimaksud pemasaran internal yaitu, partai harus secara efektif melatih dan memotivasi terjalinnya kontak berkelanjutan antar partai dengan konstituennya dan semua anggota partainya harus merupakan tim untuk dapat memberikan kepuasan kepada rakyat. Agar partai dapat secara terus menerus memberikan jasa yang bermutu tinggi, anggota partai harus berorientasi kepada kepentingan rakyat. Partai juga harus menggerakkan semua anggotanya untuk melaksanakan pemasaran. Pemasaran internal ini harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum melakukan pemasaran eksternal.

Apakah partai-partai sudah melakukan “pemasaran internal”? Kita bisa saksikan bahwa “pembekalan-pembekalan” oleh partai kepada anggota hanya ramai dilakukan pada saat-saat menghadapi Pemilu. Bagaimana melakukan pemasaran internal secara berkelanjutan dalam memperjuangkan Capres dan Cawapresnya? Pembekalan dilakukan dalam bentuk tali silaturahmi. Prabowo, misalnya melakukan sosialisasi dengan cara melancarkan program mengangkat kaum miskin. SBY melalui partai Demokratnya mensosialisasi diri dengan keberanian menurunkan BBM sampai 3 kali. Begitu pula Yusuf Kalla dengan Parta Golkarnya mensosialisakan swasembada pangan, mengingatkan keberhasilan Soeharto pada waktu itu. Megawati juga tidak ketinggalan mencoba mengangkat kembali program pengentasan kemiskinan. Wiranto melalui Hanura terus menarik simpati rakyat dengan menitikberatkan hati nurani sebagai dasar perjuangannya. Masih banyak Partai lain yang mencoba memasarkan diri seperti PAN, PKS, PPP, dan lain-lain yang berupaya menarik simpati masyarakat.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan pemasaran interaktif yaitu mutu jasa yang dirasakan sangat tergantung pada bagaimana produk diperoleh. Dalam pemasaran jasa, mutu jasa tergantung pada pemberi jasa, terutama jasa professional.

Bagaimanna profesionalisme Capres atau Cawapres, khususnya profesionalisme para tim sukses yang telah berusasah payah menyukseskan calonnya? Masih tercatat dalam perjalanan Pemilu Legislatif tahun lalu bahwa beberapa caleg peserta Pemilu ditenggarai ada yang menggunakan ijazah palsu atau ijazah aspal (asli tapi palsu). Beberapa kali sudah diberitakan di media, di beberapa tempat ketika terjadi penggerebekan, ternyata tertangkap atau ikut tertangkap anggota dewan melakukan penjudian atau sedang terlibat pesta narkoba. Rakyat di beberapa daerah menenggarai bahwa caleg ada yang bekas “preman”, tukang kawin, bekas “tukang parkir”, pengusaha busuk dan banyak berita-berita “miring” lainnya termasuk “kutu loncat” yang berharap akan menjadi “wakil rakyat” itu.

Kalau ada pemasaran, maka partai politik di Indonesia pada dasarnya “hanya” melakukan pemasaran organisasi (organization marketing). Suatu pemasaran yang semata-mata hanya melihat pada kepentingan organisasi dan bukannya kepentingan konsumen. Pemasaran organisasi bertujuan memperkenalkan nama organisasi atau meningkatkan citra organisasi. Pemasaran tokoh bertujuan untuk menciptakan citra terhadap tokoh tertentu.

Partai politik menjelang Pilpres dan Cawapres di Indonesia tidak ada yang melakukan pemasaran sebagaimana dalam teori modern tentang “konsep pemasaran” yakni: menentukan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dan memberikan kepuasan yang diinginkan pasar secara efektif dan efesien.

Bagi Capres dan Cawapres menjaga kecitraannya, karena ”kecitraannya” itu mereka melakukan pemasaran dengan mengharapkan simpati rakyat. Melakukan promosi bahwa dirinya akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka berusaha untuk mendiferensiasikan tawaran pasar mereka dari tawaran pesaing, khususnya tawaran partai-partai besar. Nampaknya partai-partai baru melihat partai “papan atas” seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI-Perjuangan, sebagai partai yang menjadi acuan untuk memposisikan partainya dengan melakukan differensiasi menyerang kebijaksanaan dan kepemimpinannya. Hal itulah akan dipergunakan dalam tema-tema kampanye nanti untuk mencari simpati rakyat pemilih.

Tidak menutup kemungkinan Capres dan Cawapres mendatang akan melakukan negative campaign (kampanye negatif) untuk membukakan aib lawan politiknya. Hal ini harus diantisipasi oleh KPU agar para kandidat dilarang menghina sesama calon pada saat kampanye.

Partai-partai yang sudah mempunyai tokoh akan melakukan pemasaran melalui ketokohannya. Demokrat, misalnya tetap memasarakan Susilo Bambang Yudhoyono, PDI-Perjuangan memasarkan Megawati (putri peroklamator Bung Karno), Gerindra memasarkan Prabowo Subiyanto, HANURA memasarkan Wiranto, PAN memasarkan Sutrisno Bachir. Partai Golkar tetap memasarkan Yusuf Kalla sebagai tokohnya. Sedangkan partai-partai lain tampak masih malu-malu untuk memunculkan tokoh-tokohnya. Mereka memegang prinsip ”wait and see

Masing-masing pasangan saling menonjolkan figur dan lambang partainya. Para calon pemimpin bangsa akan bertarung habis-habisan pada Pemilu mendatang dengan berbagai strategi pemasaran program demi kepentingan rakyat. Tinggal sekarang rakyatlah yang akan menentukan, apakah program pemasaran yang dikemas dengan berbagai strategi oleh Parpol beserta Tim Suksesnya akan layak terjual.

3. Penutup

Strategi Pemasaran yang dilakukan partai-partai di Indonesia dalam Pilpres dan Pilwapres mendatang boleh dikatakan belum ada. Partai-partai politik di Indonesia menikmati sistem nilai yang masih berpengaruh sangat kuta di negara kita ini, yakni “primordialisme” (Franz Magnis Suseno membedakan antara keterikatan primordial yang wajar dan sikap promordialistik yang tidak wajar).

Sikap primordialistik yang tidak wajar inilah yang mengakibatkan orang mengindentifikasikan diri hanya dengan salah satu unsur primordial dan pada orang itu terjadi suatu desosialisasi.  Maka Akibatnya, orang tidak bisa lagi melihat secara jernih kualitas partai politik pilihannya. Tidak peduli apakah partai itu sudah menghianati mengkhianati cita-cita perjuangannya, apakah pimpinan partai ternyata hanya mementingkan dirinya, apakah “wakil-wakilnya” di dewan sudah melupakan konstituennya, pada pemilu ke pemilu tetap menjadi pilihannya. Maka Wajar kalau elit partai tetap ingin mempertahankan keberadaan satgas-satgas partai, yang beraksi dengan menggunakan seragam militer, karena ini merupakan cara untuk memupuk sikpa sikap primordialistik. Padahal dalam ucapannya tidak ada satupun partai politik yang menginginkan “militerisme” tumbuh di Indonesia. Partai-partai politik telah mengabaikan fungsi utamanya, yakni melakukan “pendidikan politik bagi rakyat”.

Demikianlah ulasan saya. Kalau merasa kepanjangan mohon dimaafkan. Apa yang saya tulis perlu dikaji lagi keilmiahannya, sebab isi tulisan ini mengalir begitu saja tanpa muara yang jelas. Mohon pendapat dan sarannya. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip. 2003. Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall.

Kurt, David L. & Kenneth. E. Clow. 1998. Service Marketing. Jhon Willey & Sons Inc.

Suseno, Franz Magnis. 2000. Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia

Tjiptono, Fandy. 1977. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi.

Warren .J Keegan, Warren J. 1995. Global Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall Inc.

About these ads

Entry filed under: Umum. Tags: , , , , , , , , , , .

Pengaruh Intensitas Persaingan terhadap Orientasi Pasar dan Strategi Pelayanan Jasa serta Dampaknya terhadap Kinerja Perusahaan (Survei terhadap Manajer Umum pada Hotel Berbintang di Propinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat) SMP Terbuka tidak Efektif

5 Komentar Add your own

  • 1. dunia sunyi  |  6 Februari 2009 pukul 22:06

    salam dari bandung

    kok saya di suruh memilih, saya kan tidak kenal dengan calon-calon itu. Kalau melihat gambarnya saja kan belum berarti kenal, buat apa saya memilih, siapapun menjadi presiden/wakil rakyat dia ber-edioligi sosialis, kapitalis dan komunis sekalipun, kalau saya tak bekerja tak akan makan.

    kalaupun negara ini jadi bar-bar/berlaku hukum rimba karena tidak ada pemimpinnya apa peduliku, saya bisa berperilaku seperti orang yang hidup di rimba.

    Intinya yang butuh pemimpin hanya orang yang lemah dan orang yang ingin mencari nafkah dengan mengatur kebodohan,kelemahan orang-orang yang suka beronani dalam pikiran merindukan kesejahteran.

    haruskah para pemilih digiring ke tempat-tempat pemugutan suara jika setelah pemilu ternyata mereka yang terpilih akhirnya hanya berpesta di atas penderitaan rakyat.??????????

    http://esaifoto.wordpress.com

    Balas
  • 2. anggono  |  7 Februari 2009 pukul 23:49

    nyatanya benar,saat ini politik merupakan barang dagangan…..yang saya tahu:hukum jual beli nggak lain:ada yang menjual ada yang membeli,setelah kita membeli itu artinya kita bebas gunakan barang yang kita beli….entah mau di rusak atau di banting-banting terserah..!!!sama halnya politisi saat ini….
    tapi ada satu keyakinan dalam nurani pribadi bahwa suatu saat ada sosok yang benar-benar akan bawa kita menuju keharmonisan.seorang pemimpin dengan nuraninya dan dengan tanpa pamrih dia benar menjalankan kepemerintahan.
    saya nggak setuju dengan komentar essayfoto.sebab..!!nyatanya kita memang butuh seorang pemimpin menurut kapasitasnya masing-masing.sama halnya anda yang di tuntut untuk memimpin diri anda.sama halnya dengan negara ini.kalo nggak ada presiden negara ini nggak kan ada.dan anda mungkin lebih menderita daripada saat ini karna tertindas kolonial.dan jika anda tidak memilih anda bukan rakyat dari bangsa ini.
    kalo nggak kenal ya minta kenalan donk…kalo nggak tau ya cari tau.tanpa ada beribu alasan dari proses mencari jawaban itu.berjuang bukan berarti kita menyalahkan.tapi lebih mencari kebenaran yang ada.

    Balas
  • 3. abdulhamid  |  10 Februari 2009 pukul 0:14

    saya setuju dengan pandangan anda selanjutnya semua itu terserah pada rakyat indonesia. tersebut yang saya heran mengapa bangsa kita tidak pernah menyangi bangsanya sendiri dengan berbagai kejadian dipilpres maupun pilkada menunjukkan ketidak dewasanya dan rasa sesama bangsa indonesia kita semua tahu pilkada jatim merupakan contoh terburuk selama pilgub diseluruh indonesia dan didalam pilgub tersebut yang didomonasi oleh NU dan yang disutradari oleh muhammadiah tersebut menunjukkan bahwa organisasi muhammadiah berhasil mengkoyak NU sampai kapan islam seperti lebah dan bukan sebagai penjajah terhadap sesama islam dan menjadi rahmatan lilalamin.

    Balas
  • 4. lamhot  |  2 Mei 2009 pukul 16:23

    sebaiknya pada situs ini di buat nama partai beserta lambang dan nama capre dan wapres beserta janji janji nya

    Balas
  • 5. amien soejitno ad  |  24 Desember 2009 pukul 11:04

    jieh
    kalo yang jadi pemimpin tu orang2 yg cuma mau gedein perut ndiri doang bwt apa q milih mreka
    mnurut gw c gk prlu ribet gt, ayolah qt blajar satuin smw pham2 smw bwt bwt merah putih ne bersih, bebas dari benalu2,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="http://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,059,063 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: