Antara Hukuman dan Disiplin Sekolah

12 Desember 2008 at 12:33 15 komentar


Flashback dari Kasus Tindak Kekerasan Guru terhadap Siswa

Akhir-akhir ini tindak kekerasan guru terhadap siswa kembali marak di media massa. Sebuah rekaman video singkat yang berdurasi 1 menit 7 detik yang terjadi di salah satu SMK Negeri Gorontalo merupakan salah satu contoh tindak kekerasan guru terhadap siswa yang semestinya tidak perlu terjadi jika masing-masing pihak dapat mengendalikan diri. Video ini direkam oleh salah seorang siswa tanpa sepengetahuan guru yang bersangkutan.

Pada dasarnya kita menginginkan anak-anak kita berperilaku baik dan sopan bukan karena takut akan hukuman. Guru yang melakukan hukuman dengan tindak kekerasan fisik barangkali mempunyai tujuan semata-mata untuk mendisiplinkan siswanya. Hanya saja, cara yang dilakukan guru dan penerapan tersebut barangkali perlu dikoreksi kembali. Demikian pula dengan pihak sekolah. Dalam menyikapi kasus tersebut pihak sekolah perlu mengambil langkah yang tepat untuk mendisiplinkan siswa.

Perlakuan kasar kepada anak dapat menyebabkan cedera bagi anak. Penganiayaan fisik ini berkaitan dengan hukuman fisik yang berlebihan. Akibatnya dapat menyebabkan anak cacat bahkan kematian, di samping itu akan mengganggu sikap emosional anak. Risikonya anak menjadi depresi, cemas, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan berbagai permasalahan di sekolah.

Menurut Clemes (2001:47), ada beberapa pertanda yang menunjukkan bila hukuman dan disiplin sekolah mungkin tidak sesuai untuk diterapkan, sehingga anak sulit untuk mematuhi disiplin sekolah disebabkan oleh:

  1. Seorang anak yang mempunyai citra diri yang sangat buruk dan sangat dipengaruhi oleh kegagalannya sendiri pasti membutuhkan penghargaan.
  2. Seorang anak yang takut mencoba hal-hal yang baru, takut menerima tantanngan dan sulit melakukan kegiatan yang melelahkan mungkin akan lebih bersemangat bila diberikan penghargaan.
  3. Seorang anak yang sangat manja dan takut melakukan tugasnya sendirian perlu diberikan penghargaan jika dia ternyata mampu melaksanakan tugasnya tanpa bantuan orang lain.
  4. Seorang anak yang merasa kecewa karena selalu dibandingkan dengan saudaranya yang lebih pintar, lebih rajin, lebih mandiri, dan lebih aktif, perlu diberikan penghargaan agar dia merasa mampu untuk berhasil.
  5. Seorang anak yang sering meperlihatkan citra diri yang negatif atau perasaan takut yang berlebihan dengan mengatakan hal-hal seperti “Saya tidak dapat melakukannya,” dan “Saya selalu gagal,” “Saya tidak akan mampu melakukannya lagi,” adalah anak yang mungkin membutuhkan penghargaan.
  6. Seorang anak yang mengalami gangguan fisik, motorik, atau organik, dan karena kesulitan semacam itu serinng mengalami kegagalan dibandingkan anak lainnya yang sebaya dengannya, perlu diberikan tugas yang sesuai dengan kebutuhannya yang khas dan juga perlu diberikan penghargaan atas keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya.

Di sekolah-sekolah yang tata tertibnya tidak konsisten biasanya akan terjadi berbagai macam masalah yang sangat menghambat proses belajar mengajar. Selain itu, tidak terlaksananya peraturan atau tata tertib secara konsisten akan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya berbagai bentuk kenakalan yang dilakukan siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Walaupun setiap sekolah telah mempunyai peraturan tersendiri bukanlah berarti sekolah tersebut tidak menemukan berbagai bentuk pelanggaran. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah kerap dilakukan oleh para siswa. Dalam Buku 4 Pedoman Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Sosial bagi SMP yang diterbitkan oleh Depdiknas (2001:1) disebutkan bahwa dunia pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai masalah yang amat kompleks yang perlu mendapatkan perhatian kita semua. Salah satu masalah tersebut adalah menurunnya tatakrama kehidupan sosial dan etika moral dalam praktik kehidupan sekolah yang mengakibatkan sejumlah ekses negatif yang amat merisaukan masyarakat. Ekses tersebut antara lain semakin maraknya penyimpangan berbagai norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang terwujud dalam bentuk: kurang hormat kepada guru dan pegawai sekolah, kurang disiplin terhadap waktu dan tidak mengindahkan tata tertib serta peraturan sekolah, kurang memelihara keindahan dan kebersihan lingkungan, perkelahian antar pelajar, penggunaan obat terlarang, dan lain-lain.

Penerapan disiplin sekolah sangat bergantung pada tekniknya. Di bawah ini diuraikan tiga teknik penerapan disiplin sekolah yang tertuang dalam bentuk peraturan sekolah, yakni “peraturan otoritarian, peraturan permisif, peraturan demokratis.”

Peraturan Otoritarian

Dalam peraturan otoritarian, peraturan dibuat sangat ketat dan rinci. Orang yang berada dalam lingkungn disiplin sekolah ini diminta mematuhi dan menaati peraturan yang telah disusun dan berlaku di tempat itu. Apabila gagal menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, akan menerima sanksi atau hukuman berat. Sebaliknya, bila berhasil memenuhi peraturan, kurang mendapat penghargaan atau hal itu sudah dianggap sebagai kewajiban. Jadi, tidak perlu mendapat penghargaan lagi. Disiplin sekolah yang otoritarian selalu berarti pengendalian tingkah laku berdasrkan dorongan, tekanan, pemaksaan dari luar diri seseorang.

Peraturan Permisif

Dalam peraturan ini seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya. Kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu. Seseorang yang berbuat seseuatu, dan ternyata membawa akibat melanggar norma atau aturan yang berlaku, tidak diberi sanksi atau hukuman. Dampak teknik permisif ini berupa kebingunan dn kebimbangan. Penyebabnya karena tidak tahu mana yang tidak dilarang dan mena yang dilarang atau bahkan menjadi takut, cemas, dan dapat juga menjadi agresif serta liar tanpa kendali.

Peraturan Demokratis

Pendekatan peraturan demokratis dilakukan dengan memberi penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak memahami mengapa diharapkan mematuhi dan menaati peraturan yang ada. Teknik ini menekankan aspek edukatif bukan aspek hukuman. Sanksi atau hukuman dapat diberikan kepada yanng menolak atau melanggar tata tertib. Akan tetapi, hukuman dimaksud sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan mendidik. Dalam disiplin sekolah yang demokratis, kemandirian dan tanggung jawab dapat berkembang. Siswa patuh dan taat karena didasari kesaadaran dirinya. Mengikuti peraturan yang ada bukan karena terpaksa, melainkan atas kesadaran bahwa hal itu baik dan ada manfaat.

Sanksi adalah hukuman yang diberikan kepada siswa atau warga sekolah lainnya yang melanggar tata tertib atau kedisiplinan yang telah diatur oleh sekolah, yang secara eksplisit berbentuk larangan-larangan. Hal ini menurut Depdiknas (2001:10), “Sanksi yang diterapkan agar bersifat mendidik, tidak bersifat hukuman fisik, dan tidak menimbulkan trauma psikologis.” Sanksi dapat diberikan secara bertahap dari yang paling ringan sampai yang seberat-beratnya. Sanksi tersebut dapat berupa:

  1. Teguran lisan atau tertulis bagi yang melakukan pelanggaran ringan terhadap ketentuan sekolah yang ringan.
  2. Hukuman pemberian tugas yang sifatnya mendidik, misalnya membuat rangkuman buku tertentu, menterjemahkan tulisan berbahasa Inggris dan lain-lain.
  3. Melaporkan secara tertulis kepada orang tua siswa tentang pelanggaran yang dilakukan putera-puterinya.
  4. Memanggil yang bersangkutan bersama orang tuanya agar yang bersangkutan tidak mengulangi lagi pelanggaran yang diperbuatnya.
  5. Melakukan skorsing kepada siswa apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran peraturan sekolah berkali-kali dan cukup berat.
  6. Mengeluarkan yang bersangkutan dari sekolah, misalnya yang bersangkutan tersangkut perkara pidana dan perdata yang dibuktikan oleh pengadilan.

Pemberian hukuman tidak ada bedanya dengan pemberian penghargaan. Antara pemberian hukuman dan penghargaan merupakan respons seseorang kepada orang lain karena perbuatannya. Bedanya, pemberian penghargaan termasuk respons positif, sedangkan pemberian hukuman termasuk respons negatif. Akan tetapi, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengubah tingkah laku seseorang. Adapun respons positif bertujuan agar tingkah laku yang sudah baik akan lebih bertambah frekuensinya sehingga akan lebih baik lagi di masa mendatang. Sedang respons negatif (hukuman) bertujuan agar seseorang yang memiliki tingkah laku yang tidak baik itu dapat berubah dan lambat laun akan mengurangi frekuensi negatifnya.

Tegaknya peraturan sekolah secara konsisten merupakan faktor pertama dan utama yang dapat menunjang berlangsungnya proses belajar yang baik. Baik buruknya lingkungan sekolah sebenarnya sangat ditentukan oleh peraturan atau tata tertib yang dilaksanakan secara konsisten. Hanya di sekolah dengan peraturan yang konsistenlah proses belajar dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana yang telah ditentukan di dalam kurikulum. Dengan adanya peraturan tersebut, sekolah dapat berfungsi sebagai arena persaingan yang sehat bagi para siswa untuk meraih prestasi yang semaksimal mungkin. Selain itu, yang paling penting, dengan adanya peraturan yang dijalankan secara konsisten, sekolah dapat menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas tingkah laku siswa.

Baca tulisan terkait:

Kedisiplinan Siswa di Sekolah

Menangkal Pelanggaran Disiplin dan Tata Tertib Sekolah

About these ads

Entry filed under: Pendidikan, psikologi. Tags: , , , , , , , , , .

INTERAKSI DAN KOMUNIKASI DALAM KELUARGA MENANGKAL PELANGGARAN DISIPLIN DAN TATA TERTIB SEKOLAH

15 Komentar Add your own

  • 1. Pucuk  |  12 Desember 2008 pukul 17:25

    Bila dalam proses pendidikan tidak diterapkan ketegasan, pelanggaran-pelanggaranpun kerap akan terjadi dimana-mana
    Mungkin itu hukum alam kali….he,,he,,

    Balas
  • 2. Tarmizi Ramadhan  |  12 Desember 2008 pukul 17:56

    Aduh Mas Toto bisa aja…. Senang sekali sudah berkunjung ke sini. Salam untuk rekan guru di bogor.

    Balas
  • 3. Febrian  |  13 Desember 2008 pukul 2:20

    Kejadian tindak kekerasan guru terhadap siswa sangat disesalkan oleh semua pihak. Sungguh prihatin dunia pendidikan. Siapa yang salah???
    gurukah? siswakah? atau orang tuakah?
    Mumet, aku….

    Balas
    • 4. Tarmizi Ramadhan  |  13 Desember 2008 pukul 7:10

      Terima kasih Sdr. Febrian sdh berkunjung ke sini. Ingin sekali saya sharing dengan Sdr. dalam menyikapi lemahnya kedisiplinan ini. Sumber masalah terjadinya ketidakdisiplinan sangatlah kompleks, dan satu sama lain sangat berkaitan. Ingan Sdr. Febrian ketidakdisiplinan tidak hanya terjadi di sekolah, bahkan terjadi juga di jalan raya, pasar, rumah, dan lingkungan kita sekitarnya.

      Balas
  • 5. ONNY RUDIANTN  |  8 Januari 2009 pukul 8:49

    Guru harus introspeksi diri mengenai pembelajaran telah dilakukan, terutama penggunaan metode, media dan penerapan peraturan sudah tepat atau belum. Sehingga apabila gagal murid tidak jadi sasaran.

    Balas
  • 6. sam  |  18 Januari 2009 pukul 15:09

    assalamu alaikum,
    saya sangat senang membaca artikel anda tentang masalah pendidikan khususnya tentang pelanggaran dan tata tertib d skolah.
    saya juga seorang guru tapi msh baru,saya baru 2 thn dalam profesi ini.
    memang saya msh perlu banyak belajar dari orang-orang yang tlah berpengalaman, seperti anda.
    trimakasih

    =============
    @sam:

    ah, biasa saja (Mas atw Mbak, nih.!). Saya juga masih dalam taraf belajar. Terima kasih telah berkunjung kemari…

    Balas
  • 7. andre  |  24 Januari 2009 pukul 21:27

    Saya sangat tidak setuju dengan adanya upaya menyalahkan guru terhadap tindakan pendisiplinan kepada siswa (meskipun dalam bentuk kekerasan ringan seperti menampar asal jangan membuat cacat)…
    karena pengaruh negatif ke siswa sekarang ini sudah sangat banyak (dari TV, internet, dll).. sedangkan guru di sekolah hanya sebagai orang yang mendapatkan efek negatif berupa kelakuan siswa yang sudah gak ada aturannya lagi..
    Sinetron telah membuat siswa-siswa sekarang sudah menjadi anak-anak yang tidak bisa diatur dengan perkataan pelan, (malah guru dianggap lemah oleh siswa)..tapi ketika guru bertindak keras langsung di sorot media..padahal menurut saya tindakan tersebut justeru wujud perhatian guru meskipun dalam bentuk lain (seperti orangtua memukul anak yang tidak Shalat)…lihatlah pemberitaan sekarang..setiap ada kekerasan guru kepada siswa yang di sorot hanya “Tindakan Guru”..bukan “Sebabnya”…
    Jadi menurut saya..menjadi guru sekarang pake prinsip masa bodo aja..(tapi ini juga salah..karena katanya kurang perhatian)…so…pusing kan ??

    =============
    Tarmizi Ramadhan menjawab:
    Komentarnya bagus seka, Andre.. Terima kasih telah berkunjung…

    Balas
    • 8. nadiaamy  |  7 Maret 2010 pukul 10:48

      oke

      Balas
  • 9. ita  |  27 Februari 2009 pukul 16:01

    ya…. emank susah menerapkn kdisplinan dgn ank remaja..
    tapi, dngn penangan yg tepat kedisiplinan bkan hal yg susah u/ditrapkan

    Balas
  • 10. lionel sussi  |  7 April 2009 pukul 15:36

    menurut saya hukuman yang dilakukan bagi para siswa kini bisa mengurangi jam pelajaran siswa.saya kira kurang efektif

    Balas
  • 11. nurul  |  15 November 2009 pukul 21:37

    wah, om boleh saya minta yah tulisannya untuk jadi tinjauan pustaka dalam laporan penelitian saya dengan teman2 :D saya gak akan lupa nulis sumbernya kok. boleh yah.

    Balas
  • 12. endang  |  23 November 2009 pukul 9:43

    mas sekarang ini kan saya sedang menyusun skripsi yang berkaitan disiplin sekolah. saya mengalami kesulitan referensi buku2 disiplin sekolah. bisakah mas membantu saya menemukan referensi tersebut? saya butuh buku yang membahas disiplin sekolah,,sekiranya bisa ditemukan dimana? buku-bukunya apa saja yang membahas hal tersebut dan dibeli di dimana? saya sangat mohon bantuannya. terimakasih sebelumnya

    Balas
  • 13. PERATURAN SEKOLAH « Audly's Blog  |  20 Mei 2010 pukul 8:22

    [...] Masalah kedisiplinan siswa menjadi sangat berarti bagi kemajuan sekolah (Nursisto, 2002:78). Di sekolah yang tertib akan selalu menciptakan proses pembelajaran yang baik. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak tertib kondisinya akan jauh berbeda. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah dianggap barang biasa dan untuk memperbaiki keadaan yang demikian tidaklah mudah. Hal ini diperlukan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubahnya, sehingga berbagai jenis pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah tersebut perlu dicegah dan ditangkal. (lihat juga tulisan mengenai: menangkal pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah; antara hukuman dan disiplin sekolah). [...]

    Balas
  • 14. TATATERTIB SEKOLAH | Margonosmp1yk's Blog  |  3 Agustus 2010 pukul 10:57

    [...] beberapa bentuk pelanggaran, malahan akan bertambah keruh permasalahan (silakan baca juga tulisan Antara Hukuman dan Disiplin Sekolah; Kedisiplinan Siswa di [...]

    Balas
  • [...] beberapa bentuk pelanggaran, malahan akan bertambah keruh permasalahan (silakan baca juga tulisan Antara Hukuman dan Disiplin Sekolah; Kedisiplinan Siswa di [...]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="http://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,059,678 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: