ANALISIS FRUSTRASI TOKOH UTAMA NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU (Sebuah Kajian Psikologis)

21 November 2008 at 2:30 11 komentar


1.  Latar Belakang Masalah

Pada hakitanya sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fiksi, misalnya cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya, pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia.

Menurut Iswanto dalam Jabrohim (2003:59), “Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya.” Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen, novel, dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui tokoh-tokoh ceritanya.

Meskipun demikian, karya sastra yang diciptakan pengarang kadang-kadang mengandung subjektivitas yang tinggi. Seperti dikemukakan oleh Siswantoro (2005:2) berikut ini.

Imajinasi yang tertuang dalam karya sastra, meski dibalut dalam semangat kreativitas, tidak luput dari selera dan kecenderungan subjektif, aspirasi, dan opini personal ketika merespons objek di luar dirinya, serta muatan-muatan khas individualistik yang melekat pada diri penulisnya sehingga ekspresi karya bekerja atas dasar kekuatan intuisi dan khayal, selain kekuatan menyerap realitas kehidupan. Itulah sebabnya di dalam sebuah cerita, cerpen atau novel, seorang pengarang sering mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan harapan para pembaca dapat mengambil hikmah dari fenomena tersebut.

Pada dasarnya isi sebuah karya sastra memuat perilaku manusia melalui karakter tokoh-tokoh cerita. Sangat beragam perilaku manusia yang bisa dimuat dalam cerita. Kadang-kadang hal ini terjadi perulangan jika diamati secara cermat. Pola atau keterulangan inilah yang ditangkap sebagai fenomena dan seterusnya diklasifikasikan ke dalam kategori tertentu seperti gejala kejiwaan, sosial, dan masyarakat. Sebagai misal perilaku yang berhubungan gejala kejiwaan yaitu fenomena frustrasi atau kekecewaan (anxienty). Pemahaman fenomena frustrasi ini dapat dilakukan dengan mengadakan pendekatan psikologis.

Menurut Semi (1993:79) bahwa pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap karya sastra dari segi intrinsik, khususnya pada penokohan atau perwatakannya. Penekanan ini dipentingkan, sebab tokoh ceritalah yang banyak mengalami gejala kejiwaan.

Secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sebagaimana sudah kita pahami sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, esai yang diklasifikasikan ke dalam seni (art) sedang psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Hal ini dinyatakan oleh Teeuw (1991:62-64), “Konvensi sastra merupakan alat yang mengarahkan kemungkinan pemberian makna yang sesuai pada sebuah karya sastra.”

Novel atau cerpen sebagai bagian bentuk sastra, merupakan jagad realita di dalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia (tokoh). Realita sosial, realita psikologis, realita religius merupakan terma-terma yang sering kita dengar ketika seseorang menyoal novel sebagai realita kehidupan. Secara spesifik realita psikologis sebagai misal, adalah kehadiran fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama ketika merespons atau bereaksi terhadap diri dan lingkungan. Sebagai contoh, penampakan gejala jiwa dapat penulis temui di dalam novel Nayla oleh Djenar Maesa Ayu. Tokoh utama “Nayla” adalah seorang perempuan muda, yang harus meninggalkan ibunya sejak berumur 13 tahun untuk belajar hidup mandiri. Nayla, demikian nama tokoh utama cerita, mengalami rasa kecewa ketika ia teringat dengan sosok ibunya yang menjebloskan dirinya ke rumah Perwawatan Anak Nakal dan Narkotika. Sejak itu ia menjadi frustrasi. Ia meninggalkan ibunya dan belajar hidup mandiri. Dalam menjalani kehidupan, Nayla mulai berhadapan dengan berbagai konflik/pertentangan batin, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Di dalam diri tokoh kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Dari berbagai fenomena yang dialami oleh tokoh cerita, muncul kekuatan mental dan pemahaman baru tentang cara memaknai kehidupan. Karena terus dirundung berbagai konflik, akhirnya telah menghasilkan perubahan sikap pada sang tokoh cerita. Ia akhirnya larut dalam kehidupan malam, bekerja sebagai penata lampu di sebuah nite club. Apa yang dilakukan oleh Nayla, sang tokoh cerita adalah sebagai bentuk pelarian dari lingkungan keluarga sehingga lama kelamaan ia hanyut dalam lingkungan yang baru yang serba gemerlapan yang kini selalu menghantui hidupnya.

Novel Nayla karangan Djenar Maesa Ayu sangat menarik bila dikaji dengan pendekatan psikologis, khususnya dalam analisis frustrasi. Novel ini mempunyai kelebihan di antaranya ialah tokoh utama cerita ternyata mampu dan tegar menghadapi berbagai fenomena hidup meskipun di dalamnya banyak terjadi konflik. Di lain pihak, melalui tokoh cerita pengarang ingin menyampaikan pesan moral kepada pembaca bahwa pentingnya orang tua memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Hanya saja pada akhir cerita, pengarang tidak memberikan penilaian bahwa apa yang diperbuat oleh sang tokoh cerita merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap susila agama sehingga apa yang diperbuat oleh sang tokoh cerita semata-mata akibat dari rasa frustrasi dan kecewa yang berat dengan kedua orang tuanya.

Sepanjang sepengatahuan peneliti, analisis psikologis novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu belum ada yang menelitinya. Akan tetapi, untuk melakukan analisis psikologis terhadap karya sastra peneliti berpedoman dari hasil kajian Iswantoro (2005:62) dengan judul: A Study on Frustration on Relfelcted in Harry, the Major Character of The Snows of Kilimanjaro, a Fiction by Ernest Heningway: Psychological Approach. Dalam analisisnya peneliti mengungkapkan penyebab frustasi tokoh Harry dengan disertai contoh-contohnya.

Dari hasil kajian di atas, penulis mencoba melakukan hal yang sama terhadap novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Pengarang Djenar Maesa Ayu adalah salah seorang pengarang yang sangat produktif dalam karya sastranya. Ia dilahirkan di Jakarta 14 Januari 1973. Hasil karyanya kebanyakan berupa cerpen yang tersebar di berbagai media massa dalam negeri. Karya pertama Djenar berjudu: Mereka Bilang, Saya Monyet telah dicetak ulang 8 kali dan masuk dalam nominasi 1o besar terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain itu juga diterbitkan dalam Bahasa Inggris. masih banyak lagi karya cerpen Djenar yang masuk dalam kategori cerpen terbaik 2003 yang semuanya itu dapat disejajarkan dengan pengarang sastra lainnya. Nayla adalah novel pertama Djenar yang sekarang ini sedang diangkat dalam pembuatan layar lebar.

2. Rumusan Masalah

     Secara singkat masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

2.1 Apa yang menjadi penyebab Nayla frustrasi?

2.2 Bagaimanakah wujud frustrasi Nayla?

2.3 Bagaimanakah wujud self adjasment (penyesuaian diri) Nayla?

 

3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk:

3.1 mendeskripsikan penyebab Nayla menjadi frsutasi.

3.2 mengungkap wujud frustrasi Nayla.

3.3 mengungkapkan wujud penyesuaian diri Nayla.

 

4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian mencakup dua dimensi, yakni keilmuan dan praktis. Manfaat keilmuan dalam kasus ini bersifat confirmatory (membenarkan) bahwa ada hubungan antara psikologi dan sastra sebagai teori yang dilontarkan oleh pakar-pakar sastra.

Manfaat praktis merujuk kepada nilai kegunaan bagi kehidupan dan pengajaran sastra. Dari sisi manfaat kehidupan kita bisa belajar dari kasus Nayla yang mengalami frustrasi berat akibat dari korban pendidikan orang tua yang keras dan keliru. Dengan mengambil “hikmah” isi cerita itu, kita bisa belajar dan menjadi tahu tentang frustrasi dan menyikapi nasib yang menimpa kapan saja tanpa harus mereaksinya secara eksesif berlebihan.

Manfaat praktis lainnya berhubungan dengan pengajaran sastra, yakni hasil penelitian dapat diterapkan sebagai materi alternatif di dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya apresiasi sastra. Ini berarti novel Nayla menjadi materi bacaan yang seterusnya didekati dengan pendekatan psikologis, khususnya psikologi frustrasi dan self adjusment (penyesuaian diri).

 

5. Landasan Teori

5.1 Pengertian Pendekatan Psikologis

Menurut Siswantoro (2005:26), “… psikologi sebagai ilmu jiwa yang menekankan perhatian studinya pada manusia, terutama pada perilaku manusia (human behavior or action).” Selanjutnya, menurut Semi (1993:76) bahwa “pendekatan psikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia.”

 5.2 Frustrasi dan Penyesuaian Diri

Menurut Sarwono (2000:59), “Frustrasi adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan akibat adanya halangan atau rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan tersebut.” Selanjutnya, penyesuaian diri ialah proses penerima individu terhadap suatu lingkungan (Ahmadi, 2003:195). Penyesuaian diri disebabkan antara lain oleh frustrasi yang dimulai sejak taman kanak-kanak yang berlanjut terus sejalan dengan makin kompleksnya persoalan hidup (Siswantoro, 2005:116).

 

5.3 Kategori Frustrasi

Siswantoro (2005:26) mengelompokkan frustrasi ke dalam empat kategori, yaitu: reaksi agresi/menyerang (agressive reaction), reaksi menghindar (withrawal reaction), reaksi kompromistis (compromise reaction).

Menurut Prayitno (2000:89), “perilaku agresif adalah tingkah laku menyerang orang lain baik penyerangan secara verbal maupun penyerangan secara fisik.” Penyerangan secara verbal misalnya, mencaci, mengejek, atau memperolok-olok orang lain. Penyerangan secara fisik misalnya mendorong, memukul atau berkelahi. Berikut penulis sajikan salah satu cuplikan isi Novel Nayla oleh Djenar Maesa Ayu yan gberupa tindakan penyerangan yang dilakukan tokoh Nayla.

Nayla menerkam Ben. Menghajar mukanya. Menjambak rambutnya. Ben mempertahankan diri dnegan memegangi tangan Nayla. Nayla semakin brutal. Digigitnya tangan Ben, berusaha melepaskan pegangan tangannya. Pegangan tangan Ben terlepas. Nayla meraih botol bir dan memecahkannya, lalu mengacungkan ke depan muka Ben, (Ayu, 2005:89).

Reaksi lain selain agresif ialah tindak menghindar dari situasi yang menyebabkan frustrasi. Wujudnya ialah berupa menghindar secara fisik atau psikis. Reaksi menghindar terbagi lagi tiga golongan, yaitu: refresi, fantasi, dan regresi.

Frustrasi kadang-kadang tidak dapat direduksi hanya dengan tindak reaksi agresif dan menghindar, ada cara lain yaitu tindak kompromi. Di sini individu harus menyerah kepada suasana yang mengancam atau tidak mengenakkan sebagai akibat frustrasi, tetapi tanpa harus menyerah total sehingga tujuan yang diimpikan tetap bisa terealisasi. Reaksi kompromistis ini dibagi menjadi sublimasi, reaksi formasi, proyeksi, dan rasional.

Siswantoro (2005:108) menjelaskan bahwa sublimasi ialah penggantian kepuasan sebagai bentuk pelarian kepuasan kepada bentuk lain sebab kepuasan utama yang diinginkan tidak terlaksana. Reaksi formasi ialah reaksi yang terjadi ketika seseorang menekan ego untuk merealisir hasrat keinginannya sehingga tidak terwujud. Proyeksi ialah memungkinkan individu menyalahkan orang lain, bahkan benda-benda yang dipandang sebagai penyebab kegagalannya yang sebenarnya adalah perilakunya sendiri. Rasional ialah proses tidak sadar mencari alasan atau dalih sebagai penjelasan yang tampak logis atau situasi tertentu yang tidak diajukan, yang berakibat hilangnya harga atau kepercayaan masyarakat.

Berikut ini penulis berikan salah satu contoh reaksi kompromistis berbentuk proyeksi yang dilakukan oleh tokoh Nayla dalam novel Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu..

Padahal Nayla merasa ia yang harusnya kasihan kepada manusia-manusia goblog itu. Nayla tersinggung. Dihardiknya setiap orang yang memelototinya, jug aorang-orang yang sekadar melirik. Diludahinya bahu orang-orang yang terlihat bergidik. Sampai satpan datang. Mengusirnya pulang. Terjadi seperti itu berulang-ulang (Ayu, 2005:143).

 

5.4 Penyebab Timbulnya Frustrasi

Menurut Nasir (2003:29), “penyebab timbulnya frustrasi adalah, yaitu: 1) frustrasi karena alam, 2) frustrasi sosial, 3) frustrasi moral, dan 4) frustrasi karena maut.”

Frustrasi karena alam disebabkan oleh beberapa kejadian alam yang sudah tidak dapat dielakkan oleh manusia, misalnya gunung meletus, banjir, atau angin topan. Frustrasi sosial terjadi karena konflik antar individu, yang terjadi secara langsung maupun tak langsung, misalnya melakukan penyerangan, atau penghalangan kebebasan orang lain. Frustrasi moral terjadi karena penyesalan yang sangat mendalam. Frustrasi karena maut terjadi akibat dari kematian dari seseorang yang dicintai.

6. Metode Penelitian

6.1 Deskripsi Novel

Novel Nayla karangan Djenar Maesa Ayu terbitan tahun 2005 oleh PT Ikar Mandiriabadi, Jakarta. Novel ini menceritakan pengalaman hidup seseorang tokoh Nayla yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang keras. Pengalaman hidupnya ini membawa pertentangan batin dan konflik diri sehingga tokoh cerita menjadi frustrasi. Novel ini terdiri dari 179 halaman. Tebalnya adalah 1 cm.

6.2 Sumber Data

Data meliputi data primer dan skunder. Data primer berasal dari isi cerita novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Data sekunder berasal dari referensi di luar cerita, seperti: buku-buku yang memuat teori psikologi yang dikarang oleh para ahli.

 

6.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data berorientasi kepada (1) penyebab frustrasi tokoh Nayla, (2) refleksi frustrasi, dan (3) refleksi self adjusment.

Berikut langkah-langkah yang ditempuh di dalam proses pengumpulan data:

  1. Membaca teks cerita dari awal untuk menemukan data yang menunjukkan keberadaan penyebab frustrasi tokoh cerita,
  2. Melakukan pencatatan (hand writing),
  3. Memberikan deskripsi, baik secara eksplisit maupun implisit, dan
  4. Melakukan verifikasi (tindakan yang menguji keabsahan data primer).

6.4 Analisis Data

6.7.1 Langkah Analisis

Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif. Menurut Miles dan Huberman (1992:16) bahwa “analisis deskriptif kualitatif terdiri dari alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan dan koherensi, yaitu meliputi: kegiatan reduksi data (pengelompokan), penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi.”

Berikut penulis jelaskan satu per satu langkah-langkah analisis tersebut.

1) Reduksi Data

Reduksi data artinya melakukan pengelompokan data. Pengelompokan data ini dimulai dari menjaringan data yang dikaitkan dengan frustrasi yang dialami tokoh utama cerita, misalnya: adanya reaksi agresi/menyerang (agressive reaction), reaksi menghindar (withrawal reaction), dan reaksi kompromistis (compromise reaction).

2) Penyajian Data

Penyajian data ialah melakukan pemaparan terhadap data-data yang telah diperoleh. Penyajian data ini dikaitkan dengan beberapa contoh kejadian/peristiwa frustrasi yang dialami oleh tokoh Nayla.

3) Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan ialah melakukan kegiatan penyimpulan terhadap beberapa reaksi tokoh cerita yang mengalami frustrasi dan wujud dari self adjusment (penyesuaian diri) yang dihubungan dengan teori frustrasi dan penyesuaian diri menurut pendapat para ahli.

4) Verifikasi

Tindakan penarikan kesimpulan merupakan pengecekan kesesuaian antara data dengan kategori selanjutnya diteruskan dengan tindakan verifikasi, yaitu tindakan untuk menguji keabsahan data primer, yang diperolah berdasarkan hasil membaca karya sastra.

6.7.2 Langkah Kerja

Langkah kerja yang ditempuh dalam penelitian ini adalah:

Tahap Persiapan

  • Melakukan studi pustaka
  • Menyusun rancangan penelitian

Tahap Analisis Data

  • Membaca novel Nayla karangan Djenar Maesa Ayu
  • Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa frustrasi tokoh Nayla
  • Menemukan penyebab tokoh frustrasi
  • Menyeleksi dan mengklasifikasikan frustrasi tokoh

Mendeskripsikan data

Menyimpulkan

Tahap Pelaporan

  • Menyusun laporan sementara
  • Merevisi naskah sementara

Menyusun laporan akhir

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, H.Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Ayu, Maesa Djenar. 2005. Nayla. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.

Jabrohim (Editor). 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graga Widya.

Nasir, H. Sahilun A. 2003. Problematika Kehidupan & Pemecahannya. Jakarta. Kalam Mulia.

Prayitno, Ellida. 2000. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2000. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Semi. M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Muhammadyah University Press.

 

Lampiran: Sinopsis Cerita

 

Nayla karya Djenar Maesa Ayu

 

Sejak Nayla berumur 2 tahun ayah dan ibunya bercerai. Kemudian, Nayla dibesarkan oleh ibu. Cara didikan ibu sangat keras dan kejam. Nayla dilarang untuk mencari siapa ayahnya. Namun, diam-diam Nayla menyelidiki dan mencari siapa ayahnya. Pada suatu saat ia bertemu dengan ayahnya yang ternyata telah beristri lagi. Sejak itu, Nayla sering ke tempat ayahnya. Perbuatan ini diketahui oleh ibu. Akibatnya, ibu marah besar kepada Nayla dan mengusirnya. Namun, pertemuan Nayla dengan ayah hanya sebentar. Ayahnya meninggal dunia.

Sejak kematian ayahnya, Nayla sedikit mengalami perubahan. Ia frustrasi dan kecewa, seperti membolos dan suka tertawa-tawa sendiri. Keganjilan ini diketahui oleh ibu tirinya. Kemudian, Nayla dituduh pengguna Narkoba. Dengan akal licik ibu tirinya dan meminta izin dengan ibu kandungnya, Nayla dijebloskan ke rumah Perawatan Anak Nakal dan Narkotika. Nayla tak tahan dengan usaha keras ia bisa kabur dari tempat itu bersama-sama dengan temannya. Nayla tidak pulang ke rumah ia numpang ke tempat temannya. Ia mulai belajar hidup mandiri. Ia mulai pekerjaan apa saja, seperti merampok dan mencuri. Akhirnya, ia dan teman-temannya ditangkap polisi.

Hidup Nayla tidak tentu arah. Ia tidur di terminal. Ia melamar pekerjaan dan diterima sebagai penata lampu di sebuah nite club atau diskotek. Ia mulai belajar hidup mandiri. Menyewa rumah sendiri dan memenuhi keperluan sehari-hari.

Di tempat itu (diskotek) ia mulai mengenal rokok dan minuman. Hidupnya semakin bebas, mulai dari cara berpakaian, berdandan, dan bergaul. Berbagai konflik mulai muncul pada dirinya, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia putus dengan pacarnya, berpisah dengan ibunya, teman wanitanya, sampai ia berubah profesi menjadi penulis. Di dalam diri tokoh kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Berkat kegigihannya, akhirnya Nayla sukses menjadi pengarang.

About these ads

Entry filed under: Penelitian. Tags: , , , , , , , , , , , .

Mengatasi Anak Malas Belajar Kajian Emosionalitas dan Egoisme Pelaku Cerita dalam Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Karya Ihsan Abdul Qudus

11 Komentar Add your own

  • 1. Citra Sriwijaya  |  21 November 2008 pukul 15:43

    Salam buat Anda….
    Rancangannya bagus buanget, sangat bermanfaat buat saya.
    kebetulan aku lagi meneliti satra dengan kajian psikologis.
    masukannya sangat berguna buat saya.

    Balas
  • 2. Tarmizi  |  21 November 2008 pukul 16:50

    Silakan diteruskan.
    Terima kasih atas kunjungannya.

    Balas
  • 3. Olav Iban  |  22 Maret 2009 pukul 17:44

    Salam kenal Mas Tarmizi..

    Menurut anda bisa ga ya, lewat kajian psikologi sastra, untuk menentukan bahwa bangunan adalah tokoh utama dalam sebuah karya sastra….?
    pake teori psikologi apa ya? saya udah cari2 ttg psikologi lingkungan. psikologi sosial, dll… tapi lum ada yg bisa mendukung pernyataan saya tadi. (bangunan memiliki jiwa dan dinamika psikologi)

    terimakasih sebelumnya. :)

    _____________
    @Olav Iban. Salam kembali. Menurut saya kajian psikolog sastra digunakan untuk analisis perilaku tokoh atau pelaku cerita yang berwujud manusia. Jika kamu mendapatkan tokoh cerita yang berwujud bangunan atau benda, coba saja dianalisis dengan pendekatan semiotik. Mungkin lebih tepat…

    Balas
  • 4. Olav Iban  |  26 Maret 2009 pukul 22:44

    wah.. mas tarmizi.. saya telat buka blog masnya…
    so, kemarin saya presentasi tetep pake psikologi sastra.

    sekadar info: saya membahas bagaimana sebuah bangunan menjadi tokoh utama pada roman Notre Dame da Paris karya Victor Hugo… dan saya akhirnya pake dekonstruksi.. tapi sebelumnya menggunakan analisis isi (untuk cari unsur intrinsik penokohan) trus hasilnya saya dekonstruksi dengan menunggangi teori psikologi lingkungan… :)

    tapi selebihnya, terimakasih atas komentar mas tarmizi.

    salam

    Balas
  • 5. bayu ardiansyah  |  28 April 2009 pukul 7:19

    semangat semangat dan tetep semangat…..

    ____________
    @bayu ardiansyah. Semangat 45, terus berjuang….

    Balas
  • 6. rina  |  9 Mei 2009 pukul 22:30

    thanks berat, MasTarmizi…
    membuka pikiran saya yg lagi suntuk milah-milih topik u/ paper filsafat…

    tetap menulis & merdeka!

    Balas
  • 7. vina  |  2 April 2010 pukul 20:17

    mas,bisa tolong di jelaskan ga tentang unsur ekstrinsik dan intrinsik dari novel tersebut?
    saya dapat tugas apresiasi sastra dan saya mengalami kesulitan di unsur intrinsik ekstrinsiknya. terima kasih

    ===============
    @vina: Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun cerita dari dalam, seperti tema, alur, penokohan/perwatakan, latar/setting, pusat pengisahan, gaya bahasa, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun cerita dari luar seperti dikaitkan dengan latar belakang pengarang, kehidupan sosial, pandangan hidupnya, atau riwayat hidupnya. Nah, kamu cari saja unsur-unsur tersebut dengan membaca novelnya dari awal sampai dengan seleai. (waduh kepanjangan jawabannya, terima kasih, ya, atas kunjungannya)

    Balas
  • 8. Andre  |  9 Mei 2010 pukul 21:55

    tanks for tarmizi atas sdikt cuplikan analisisnya, TINGKATKAN!!!!!unsur-unsur pembngun yang mandasari sbuah nvel sbnarnya mash sngat banyak yang dpt diangkat mjd sbuah pmbhasan…….prlu d tmbh metode kajian dri cbang ilmu yang brsangjutan dgn lbh mndlm……

    Balas
  • 9. dira  |  28 November 2010 pukul 17:37

    saya mau nanya kalau mau nganalisis cerpen tentang perampokan sebaiknya menggunakan psikologi sosial atau lingkungan atau apa ya? tolong jawab. terima kasih

    Balas
  • 10. SASTRA DAN STUDI SASTRA « sastradanbahasa  |  16 Maret 2011 pukul 9:52

    [...] http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/21/analisis-frustrasi-tokoh-utama-novel-nayla-karya-djenar-maes… [...]

    Balas
  • 11. oca  |  6 Juli 2013 pukul 19:22

    banyak yang copas tapi ga dikasih referensi.. beuh!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jika Anda berminat menautkan blog ini, copy dan paste kode banner di bawah ini ke blog atau situs Anda.
<a href="http://tarmizi.wordpress.com" target="_blank"><img src="http://cdn-users1.imagechef.com/ic/stored/2/100319/anmfe5cf44cf7742a9b.gif" align="Center">

Translate Isi Blog

Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Yang sedang online saat ini

free counters

Statistik Blog

Statistik Kunjungan

  • 1,096,222 Pengunjung

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

RSS Blogger Indonesia

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

FACEBOOK

Profil Facebook Tarmizi Ramadhan



Lintas Berita – Berita Terbaru


POLLING TERBUKA

Kompetisi Blog Kebahasaan

balaibahasabandung.web.id

Kalender

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: